Teriyaki Ala Kedai Reni

Oleh: Kharisma Nanda Putri Permatasari

Di era ekonomi kreatif saat ini, UMKM menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi nasional dengan tingkat kestabian yang tinggi. Dikutip dari bisnis.com, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto nasional diproyeksi tumbuh 5% sepanjang tahun 2019. Dengan estimasi pertumbuhan tersebut, total kontribusi UMKM Terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dapat mencapai 65% atau sekitar Rp. 2.394,5 triliun. Adapun realisasi Kontribusi UMKM terhadap PDB nasional tahun lalu sekitar 60,34%. Optimisme tersebut didasarkan pada banyaknya UMKM pemula yang bermunculan mulai dari usaha fashion, produk kecantikan, bidang otomotif, bidang pengantaran, perabotan, kerajinan hingga usaha kuliner.

Tak dipungkiri usaha kuliner menjadi salah satu bisnis yang paling diminati dan berprospek tinggi. Peluang tersebut juga ditangkap oleh seorang wanita bernama Rini widyawati yang mulai menekuni bidang tersebut pada usia muda. Dua tahun yang lalu, saat usianya masih 25 tahun, beliau telah sukses mendirikan Kedai makanan yang diberinya nama “Kedai Reni” yang berada di wates, Kulon Progo. Ide mendirikan kedai ini berawal saat beliau menjalankan bisnis salon miliknya, banyak pelanggan yang memintanya menyediakan kantin agar pelanggan dapat menikmati makanan sembari menunggu giliran. Saran tersebut ditanggapi serius oleh dirinya dengan mulai mencoba berbagai resep dari internet.

Berdasarkan beberapa pengalaman beliau menjelajahi wisata makanan dijogja, akhirnya beliau putuskan mengapa tidak menjual menu seperti katsu, teriyaki, dan menu geprek lainya di daerahnya, apalagi disana memang masih jarang orang yang berjualan dengan menu tersebut.  Berbekal modal awal sekitar 10 juta, saat ini beliau mampu mendapatkan omzet sebulan sebesar 7-10 Juta dengan laba bersih sebesar 2-5 Juta. Pada awalnya beliau masih mengelola usahanya sendiri, mulai dari melayani pembeli, memasak hingga menjadi kasir. Namun dengan berjalanya waktu dan semakain banyaknya pembeli, Beliau memutuskan untuk mengangkat dua karyawan yang membantunya memasak dan menjadi kasir.

Selain strategi manajemen SDM dengan menambah karyawan, beliau juga mengoptimalkan manajemen pemasaran. Strategi pemasaran yang beliau lakukan, mulai dari offline dan online. Namun, yang paling berhasil menggunakan media online. Media yang digunakan juga banyak, diantaranya: Facebook, Instagram dan WhatsApp. Peluang  tersebut, Membuatnya berfikir untuk segera memendaftarkan kedai miliknya kekantor Gojek di Yogyakarta agar semua orang semakin mengenal produknya. Selain dapat memesan melalui Aplikasi Gojek, pelanggan juga dapat memesan lewat WhatsApp ke admin kedai Reni, menggembirakanya lagi biaya antar untuk setiap porsi baik itu jauh maupun dekat hanya dibebani biaya Rp 500,00 saja. Pas untuk kantong mahasiswa bukan ?….

Beralih ke manajemen produksi, Kedai Reni selalu memastikan bahwa bahan baku yang digunakan selalu fresh, jadi beliau belanja dihari bahan baku tersebut akan diproduksi. Misalnya saja ayam, dalam sehari beliau bisa menghabiskan 5 kg lebih kusus daging dada ayam. Jika pada hari itu ayam habis sebelum jam tutup, maka beliau akan membeli lagi dari pemasok, namun jika pada hari itu masih sisa, maka sisa ayam itu ia masak sendiri, bukan untuk dijual keesokan hari. Begitu juga tepung terigu, maizena dan tapioca, beliau tidak melakukan persediaan diawal bulan langsung perkarung, karena hal ini akan merusak kualitas tepung yang dibiarkan lama menjadi menggumpal. Tak jauh beda, bumbu dan sayur juga beliau beli dihari bahan tersebut akan diproduksi. Hal ini tidak sulit dilakukan karena jarak pasar dengan Kedai Reni hanya berjarak sekitar 1km saja.

Terakhir dari pembahsan artikel kali ini adalah mengenai manajemen keuangan. Dengan berbagai strategi pemasaran yang dijalankan membuat Kedai Reni telah mengalami balik modal pada satu tahun pertama. Pecatatan keuangan yang baik setiap hari, juga menjadi factor terpenting untuk menjalankan bisnisnya. Segala bentuk pengeluaran mulai dari biaya produksi, biaya listrik, gaji karyawan dan biaya lainya serta pemasukan selalu terhitung terperinci. Meskipun dalam pencatatanya masih menggunakan model yang sangat sederhana. Perlu digaris bawahi pula, Keberhasilan yang terjadi tidak selalu berjalan  mulus, banyak lika-liku yang beliau hadapi. Ada kalanya laku ada kalanya sepi bahkan bisa merugi. Namun sebagai jiwa wirausaha, tidak ada kata berhenti, yang ada hanya terus belajar dan menjalani. Semangat berproses !!

455 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *