SATE MADURA ALWAT (Alun-Alun Wates)

Oleh: Noor Shoimah

Usaha mikro kecil menengah (UMKM) merupakan suatu usaha perdagangan yang dikelola oleh perorangan atau juga badan usaha yang dalam hal ini termasuk juga sebagai kriteria usaha dalam lingkup kecil atau juga mikro. Peraturan mengenai UMKM sudah dibahas didalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008. Usaha mikro mampu memperluas lapangan kerja, memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat terutama kepada masyarakat menengah ke bawah, selain itu juga berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Dilain sisi kelebihan yang dimiliki, usaha mikro tersebut juga memiliki tantangan atau hambatan yang akan dialami si pelaku UMKM tersebut, contohnya dalam bidang produksi, pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, desain dan teknologi, dan permodalan. Salah satu hal yang sama terjadi pada usaha Sate Madura yang didirikan oleh sepasang suami istri asal Madura ini, bapak Totok  dan ibu Putri yang berlokasi di Wates, Kulonprogo.

Usaha tersebut dirintis mulai tahun 2011 semenjak pak Totok dan istrinya, bu Putri memutuskan untuk pindah ke kota Wates, kulonprogo ini. Dengan bermodal awal pinjaman dari bank serta tekat yang kuat untuk membangun usahanya. Setelah sekian waktu berjalan, tentu saja ada hambatan atau tantangan tersendiri. Salah satunya adalah keadaan dimana kadang sepi pembeli, namun itu termasuk hal yang wajar ujar ibuknya. Selain itu, hambatan lain yang dialami usaha tersebut adalah masalah keuangan, dengan keadaan yang tidak menentu kadang ramai dan kadang sepi itu membuat mereka harus mencari solusi untuk menutupi kekurangan dana dalam membeli bahan baku. Mereka meminjam dana ke koperasi untuk melanjutkan usahanya tersebut. Sedangkan untuk proses produksi, pak Totok dan ibu Putri merasa tidak ada hambatan dalam memproduksinya karena mereka mengerjakannya secara bersama-sama sehingga tidak terlalu berat. Mereka melakukan proses pembuatan sate dimulai dari pagi setelah membeli bahan-bahan kebutuhan produksi di pasar dan kemudian menjualnya di sore hari.

Disamping hambatan yang tertera di atas, usaha tersebut juga memiliki hambatan dalam hal pemasaran. Dengan pemasaran yang hanya berfokus pada satu tempat saja membuat usahanya hanya berkembang seperti itu-itu saja tanpa ada perubahan dari dulu, yang mana dulu usahanya berada di daerah Wates yang bagian desa. Hal tersebut membuat mereka untuk berfikir dan berinovasi untuk memindahkan usaha sate ayam nya ke Alun-alun kota Wates. Dimana tempat tersebut menjadi pusat kegiatan masyarakat Wates terutama anak-anak muda untuk merefreshkan diri dari kepenatan setelah beraktivitas seharian.

Semenjak memutuskan untuk memindahkan usahanya di Alun-alun kota Wates, penghasilan yang diperoleh pun kian meningkat sejalan dengan bertambahnya penduduk kota yang berasal dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu di universitas yang ada di Wates. Setelah mengalami berbagai hambatan dan sudah menemukan solusinnya, sekarang usaha sate ayam berdiri hingga saat ini serta memberikan kepuasan bagi konsumen yang menikmatinya. Dengan begitu, UMKM ini berhasil menjadi fungsi dari salah satu faktor penggerak kesejahteraan masyarakat.

 

202 comments

    1. Paragraf pertama & kedua kepanjangan, jd mungkin bisa dibagi jd 2 paragraf biar lebih enak bacanya
      Btw enak gaaa? Kalo aku ke Jogja ajak ke situ yaww ahahahha

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *