CARI INVESTOR ATAU KREDITOR? BAGAIMANA CARANYA? (D3 Akuntansi)

Banyak perusahaan, khususnya perusahaan kecil, setelah menyusun laporan keuangan tidak menggunakan laporan keuangan tersebut untuk menilai kinerja perusahaan. Laporan keuangan dapat digunakan untuk menilai perusahaan dengan cara menganilisis laporan keuangan tersebut kemudian menginterpretasikan hasil analisis tersebut. Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan menghitung rasio-rasio keuangan. Pekerjaan ini terlihat rumit, namun sebenarnya pekerjaan tersebut sangatlah mudah. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengintrepretasikan atau memaknai angka-angka yang dihasilkan dalam penghitungan rasio-rasio keuangan.

Pemilik perusahaan perlu mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan dapat menghasilkan laba. Informasi mengenai tingkat laba yang dihasilkan oleh perusahaan sangat bermanfaat bagi berbagai pihak termasuk pemilik usaha. Perusahaan juga perlu mengetahui seberapa efektif perusahaan mengelola aset atau harta yang dimiliki untuk kegiatan perusahaan. Kalau aset yang dimiliki tidak dikelola dengan baik, tentunya pengelolaan perusahaan juga tidak efektif. Keefektifan pengelolaan aset perusahaan berpengaruh pada kinerja perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (laba/keuntungan). Selain kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dan keefektifan pengelolaan aset perusahaan, perusahaan juga perlu mengetahui kemampuan untuk membayar semua kewajiban (utang) perusahaan, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga perusahaan dapat mengevaluasi perusahaan jika muncul permasalahan dalam hal kesulitan membayar utang perusahaan.

Rasio keuangan merupakan salah satu “alat” untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan. Analisis rasio keuangan menggunakan data laporan keuangan perusahaan, seperti laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas. Laporan keuangan dianalisis agar perusahaan memperoleh gambaran tentang tingkat profitabilitas (keuntungan) perusahaan, tingkat likuiditas atau kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendeknya, dan tingkat solvabilitas atau kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajiban atau utangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berdasarkan rasio-rasio keuangan ini, Anda dapat membandingkan kinerja perusahaan.

Anda dapat mengetahui peningkatan atau penurunan kinerja perusahaan dengan membandingkan rasio keuangan dari satu perioda ke perioda yang lain. Dengan membandingkan rasio-rasio keuangan perioda terkini dengan rasio-rasio keuangan pada perioda-perioda sebelumnya dapat menunjukkan peningkatan atau penurunan kinerja perusahaan yang tentunya hal tersebut dapat menunjukkan perusahaan mengalami perkembangan atau tidak. Pendekatan seperti ini disebut dengan time series analysis. Anda juga dapat membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan perioda terkini dengan rasio-rasio keuangan perusahaan sejenis yang lain pada perioda yang sama. Dengan demikian dapat diketahui posisi perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis yang lain, yaitu berada di atas rata-rata, berada pada rata-rata, atau berada di bawah rata-rata. Pendekatan seperti ini disebut dengan cross sectional approach.

Pelaku UMKM setidaknya harus memahami dua rasio keuangan, yaitu rasio profitabilitas dan likuiditas. Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada suatu perioda tertentu. Berdasarkan analisis rasio profitabilitas, perusahaan dapat menilai kinerja dalam menghasilkan laba, membandingkan laba setiap tahun, mengetahui perkembangan perusahaan, maupun mengetahui produktivitas dana yang digunakan oleh perusahaan. Sedangkan, rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang, secara khusus utang jangka pendek. Berdasarkan rasio likuiditas, Anda dapat mengetahui kemampuan perusahaan melunasi semua utang, baik saat jatuh tempo atau saat ditagih oleh kreditor (pemberi pinjaman). Analisis ini bermanfaat bagi perusahaan untuk pengambilan keputusan kredit atau sebaliknya bagi kreditor, analisis ini bermanfaat untuk mengambil keputusan apakah ia akan memberikan pinjaman kepada perusahaan atau tidak karena mereka dapat memperoleh informasi kemampuan bayar dari perusahaan tersebut.

Coba Anda berikan contoh bagaimana cara menghitung dan membaca hasil analisis rasio profitabilitas dan likuiditas. Berikan contoh dengan didahului dengan menyajikan laporan keuangan, terutama laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan (neraca). Laporan keuangan boleh Anda buat sendiri atau mengambil dari berbagai sumber (dicantumkan sumbernya). Tuliskan jawaban Anda pada kolom komentar. Semangat belajar. Mari kita bantu pelaku UMKM agar mampu membaca hasil analisis keuangan dengan baik.

 

 

 

 

77 comments

  1. 1. RASIO PROFITABILITAS
    UMKM INDAH ALAMI
    Laporan Laba Rugi
    Untuk perioda yang berakhir pada 31 Desember 2014 (dalam rupiah)
    Penjualan 250.000.000
    (Retur penjualan) (5.000.000)
    (Potongan Penjualan) (1.000.000)
    penjulan bersih 244.000.000
    (HPP)(145.000.000)
    Laba kotor 99.000.000
    Dikurangi :
    Biaya gaji 20.000.000
    Biaya sewa 12.000.000
    Biaya listrik, air, telepon 2.000.000
    Biaya pemasaran 1.500.000
    Biaya angkut penjualan 3.500.000
    Biaya perlengkapan 1.000.000
    Biaya penyusutan kendaraan 1.500.00
    Biaya penyusutan peralatan 500.000
    Total biaya (42.000.000)
    Laba (Rugi) bersih sebelum pajak 57.000.000
    Pajak (1% dari omzet/penjualan) (2.500.000)
    Laba bersih setelah pajak 54.500.000

    UMKM INDAH ALAMI
    Neraca
    Per 31 Desember 2014 ( dalam rupiah)
    Asset Lancar
    Kas 100.000.000
    Persediaan barang dagang 120.000.000
    Perlengkapan 30.000.000
    Sewa Dibayar Dimuka 10.000.000
    Total asset lancer 260.000.000
    Asset Tetap
    Kendaraan 80.000.000
    Akm.Penyusutan Kendaraan (6.000.000)
    Peralatan 40.000.000
    Akm.Penyusutan peralatan (4.000.000)
    Total Aset Tetap 110.000.000
    Total Aset 370.000.000

    Utang Lancar
    Utang Dagang 60.000.000
    Utang Gaji 30.000.000
    Utang Pajak 10.000.000
    Utang Jangka Panjang
    Utang Bank 50.000.000
    Utang Hipotek 40.000.000
    Ekuitas
    Modal INDAH ALAMI 180.000.000
    TOTAL Utang + Ekuitas 370.000.000

    a. Gross Profit margin = (penjualan bersih-HPP)/Penjualan Bersih
    = (244.000.000-145.000.000)/244.000.000
    = 0,41 atau 41%.
    Angka 41% berarti dari total penjualan yang didapatkan, sebesar 59% digunakan hanya untuk menutup HPP, sehingga hanya 41% untuk menutup biaya operasional dan biaya lain. Atau dapat diartikan setiap Rp.1 penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp.0,41.
    b. Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak/Penjulan bersih
    = 54.500.000/244.000.000
    =0,22 atau 22%.
    Angka 22%, berarti dari total penjulan bersih didapatkan, sebesar 78% digunakan untuk menutup semua biaya. Sisa sebesar 22% merupakan laba bersih yang didapatkan perusahaan. Angka tersebut harus dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis untuk mengetahui baik buruknya kinerja perusahaan.
    c. Return on Assets = Laba Bersih/Total Aset
    = 54.500.000/370.000.000
    =0,15%
    =15%
    Angka 15% menunjukan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sebesar 15% dari total asset yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Atau dengan Rp.1 menghasilkan laba bersih Rp.0,15. Untuk mengetahui baik buruknya kinerja perusahaan nilai ini harus dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis.
    d. Return on Equity = Laba Bersih/Ekuitas
    =54.500.000/180.000.000
    =0,30
    =30%
    Angka 30% menunjukkan bahwa perusahaan mampu memberikan imbal hasil usaha untuk Rp.1 yang diinvestasikan, pemilik mendapat tambahan nilai ekuitas Rp0,30. Atau pemilik atau investor mendapat kenaiakna nilai ekuitas sebesar 30%.
    2. RASIO LIKUIDITAS
    Jika diketahui data berdasarkan data dalam neraca sebagai berikut:
    Kas Rp 50.000.000
    Piutang dagang Rp 100.000.000
    Piutang lain-lain Rp 2.000.000
    Persediaan Rp 75.000.000
    Perlengkapan Rp 5.000.000
    Hutang dagang Rp 20.000.000
    Hutang bank Rp 10.000.000
    Hutang lain-lain Rp 15.000.000
    Aktiva Lancar = Kas + piutang dagang + piutang lain-lain + persediaan + perlengkapan usaha
    = Rp 50.000.000 + Rp 100.000.000 + Rp 2.000.000 + Rp 75.000.000 + Rp 5.000.000
    = Rp 232. 000.000
    Utang Lancar = Rp 20.000.000 + Rp 10.000.000 + Rp 15.000.000
    = Rp 45.000.000
    a. Rasio lancar (current ratio)
    Current Ratio = Aktiva Lancar/Utang Lancar
    Current Ratio = Rp 232. 000.000/Rp 45.000.000
    = 5,15
    Artinya adalah, setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 5,15 aktiva lancar
    b. Rasio cepat (quick ratio)
    Rumus untuk menghitung rasio cepat yaitu sebagai berikut:
    Quick ratio =( Aktiva Lancar – Persediaan- Persekot Biaya)/Utang Lancar
    = (Rp 232. 000.000 – Rp 75.000.000)/Rp 45.000.000
    = Rp 157.000.000/Rp 45.000.000
    = 3,48
    Artinya adalah, kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar dengan aktiva adalah setiap Rp 1 hutang lancar dengan Rp 3,48 aktiva lancar yang likuid.
    c. Rasio kas (cash ratio)
    Cash ratio = Kas atau Setara / Utang Lancar
    = Rp 50.000.000 / Rp 45.000.000
    = 1,1
    Artinya adalah, kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar dengan kas adalah setiap Rp 1 hutang lancar dengan Rp 1,1 kas perusahaan.
    Sumber : https//www.stanakuntansi.com
    Sagoro, Endra Murti. 2015. Akuntansi Tanpa Stres. Yogyakarta:Abpublisher

  2. TOKO TOHA JAYA
    Laporan Laba Rugi
    Periode 31 Desember 2014
    Penjualan Rp192.600.000
    Retur penjualan (Rp2.300.000)
    Potongan penjualan (Rp1.300.000)
    Penjualan bersih Rp189.000.000
    HPP (Rp106.800.000)
    Laba kotor Rp82.200.000
    Dikurangi:
    Biaya angkut penjualan Rp1.500.000
    Biaya gaji toko Rp9.350.000
    Biaya listrik, telepon toko Rp1.600.000
    Biaya gaji kantor Rp3.000.000
    Biaya listrik, telepon kantor Rp1.300.000
    Biaya bunga bank Rp325.000
    Biaya perlengkapan toko Rp2.900.000
    Biaya perlengkapan kantor Rp1.250.000
    Biaya sewa Rp12.000.000
    Biaya penyusutan peralatan toko Rp2.050.000
    Biaya penyusutan peralatan kantor Rp925.000
    Total biaya (Rp36.200.000)
    Ditambah:
    Laba penjualan aktiva tetap Rp6.400.000
    Laba bersih Rp52.400.000
    Laba bersih setelah pajak = laba bersih – (1% X laba bersih)
    = Rp52.400.000 – (1% X Rp52.400.000)
    = Rp52.400.000 – Rp524.000
    = Rp52.347.600

    TOKO TOHA JAYA
    Neraca
    Periode 31 Desember 2014
    Aktiva
    Kas Rp16.800.000
    Piutang dagang Rp70.500.000
    Persediaan barang dagang Rp106.200.000
    Sewa dibayar dimuka Rp12.000.000
    Perlengkapan toko Rp2.800.000
    Perlengkapan kantor Rp1.950.000
    Peralatan toko Rp20.500.000
    Akumulasi penyusutan peralatan toko (Rp5.945.000)
    Peralatan kantor Rp18.500.000
    Akumulasi penyusutan peralatan kantor (Rp2.775.000)
    Total asset Rp240.530.000

    Passiva
    Utang dagang Rp15.000.000
    Utang bank Rp20.500.000
    Utang gaji toko Rp750.000
    Modal Rp204.280.000
    Total passiva Rp240.530.000

    Sumber laporan keuangan: soal akuntansi dagang SMA

    1. Analisis Profitabilitas
    a. Gross Profit Margin (GPM)
    GPM = (Penjualan bersih – HPP) / penjualan bersih
    = (Rp189.000.000 – Rp106.800.000) / Rp189.000.000
    = Rp82.200.000 / Rp189.000.000
    = 0,434920634
    = 0,43 atau 43%
    Analisis:
    Angka 43% berarti bahwa dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 57% digunakan hanya untuk menutup HPP sehingga yang tersisa hanya sebesar 43% yang digunakan untuk menutup biaya operasional dan biaya lain. Jika biaya-biaya tersebut tidak melebihi 43%, maka perusahaan masih mendapatkan laba. Namun, jika biaya-biaya tersebut lebih besar dari 43% maka perusahaan tidak mendapatkan laba.
    b. Net Profit Margin (NPM)
    NPM = laba bersih setelah pajak / penjualan bersih
    = Rp52.347.600 / Rp189.000.000
    = 0,276971428
    = 0,28 atau 28%
    Analisis:
    Angka 28% berarti bahwa dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 72% digunakan untuk menutup semua biaya seperti HPP, biaya operasional dan termasuk pajak yang dibayarkan. Sisa sebesar 28% merupakan laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan.
    c. Return on Assets (ROA)
    ROA = laba bersih / total asset
    = Rp52.400.000 / Rp240.530.000
    = 0,217852243
    = 0,22 atau 22%
    Analisis:
    Angka 22% berarti bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sebesar 22% dari total asset yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.
    d. Return on Equity (ROE)
    ROE = laba bersih / ekuitas
    = Rp52.400.000 / Rp204.280.000
    = 0,256510671
    = 0,26 atau 26%
    Analisis:
    Angka 26% berarti bahwa perusahaan mampu memberikan imbal hasil usaha untuk setiap Rp1 yang diinvestasikan di perusahaan, pemilik mendapatkan tambahan nilai ekuitas Rp0,26. Dengan kata lain, dari total investasi yang dilakukan di perusahaan, pemilik atau investor mendapatkan kenaikan nilai ekuitas sebesar 26%.
    2. Analisis Likuiditas
    a. Current Ratio (CR)
    CR = asset lancar / utang lancar
    = Rp210.250.000 / Rp15.750.000
    = 13,34920635
    = 13,4 atau 134%
    Analisis:
    Angka 13,4 berarti bahwa setiap Rp1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp13,4 aset lancar.
    b. Quick Ratio (QR)
    QR = (asset lancar – persediaan – persekot biaya) / utang lancar
    = (Rp210.250.000 – Rp106.200.000 – Rp12.000.000) / Rp15.750.000
    = Rp92.050.000 / Rp15.750.000
    = 5,844444
    = 5,84 atau 584%
    Analisis:
    Angka 5,84 berarti bahwa setiap Rp1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp5,84 aset lancar yang telah dikurangi persediaan dan persekot biaya.

  3. LAPORAN POSISI KEUANGAN
    AKTIVA
    AKTIVA LANCAR
    Kas 30.000.000
    Piutang 70.000.000
    Persediaan 20.000.000
    TOTAL AKTIVA LANCAR 120.000.000
    AKTIVA TETAP
    Aktiva Tetap 500.000.000
    Akm. Peny. Harta Tetap (150.000.000)
    TOTAL AKTIVA TETAP 350.000.000
    KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
    Utang Usaha 15.000.000
    Utang Sewa 20.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN JANGKA PENDEK 35.000.000
    KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
    Utang Bank 50.000.000
    Utang Obligasi 45.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN JANGKA PANJANG 95.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN 130.000.000
    EKUITAS
    Modal Disetor 200.000.000
    Laba Ditahan 140.000.000
    TOTAL EKUITAS 340.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS 470.000.000
    LABA RUGI
    PENDAPATAN
    Penjualan 800.000.000
    Retur Penjualan 50.000.000
    Diskon 40.000.000
    Pendapatan Sewa 30.000.000
    TOTAL PENDAPATAN 920.000.000
    HPP 100.000.000
    LABA KOTOR 820.000.000
    BIAYA-BIAYA
    Biaya Gaji 200.000.000
    Biaya Sewa70.000.000
    Biaya Penyusutan 30.000.000
    Biaya Kurir 50.000.000
    Biaya Lain-lain 150.000.000
    TOTAL BIAYA 500.000.000
    PENDAPATAN & BEBAN DILUAR USAHA
    Pendapatan Bunga 300.000.000
    Beban Bunga 40.000.000
    TOTAL PENDAPATAN & BEBAN DILUAR USAHA 340.000.000
    LABA BERSIH 580.000.000
    Beban Pajak 29.000.000
    LABA BERSIH SETELAH PAJAK 551.000.000

    1. RASIO PROFIBILITAS
    “Rasio Profitabilitas” mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan cara membandingkan antara laba (profit) dengan elemen-lemen lain laporan keuangan seperti Penjualan, HPP, Aset, Ekuitas, Modal Saham, dsb,
    a. Gross Profit Margin (GPM)
    Adalah rasio yang membandingkan antara laba kotor (gross profit) dengan penjualan
    formulanya : penjualan bersih – hpp ÷ penjualan bersih
    920.000.000 – 100.000.000 ÷ (920.000.000) = 0,89
    Kesimpulan : 0,89 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan PT. ZHR, 0,11 nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 0,89 nya digunakan untuk menutup biaya umum. Dengan kata lain setiap Rp. 1,- penjualan PT. ZHR 11% nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 89% nya digunakan untuk menutup biaya umum.
    b. Net Profit Margin
    Adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Net Profit Margin mengukur persentase dari profit yang diperoleh perusahaan dari tiap penjualan sebelum dikurangi dengan biaya bunga dan pajak.
    Formulanya Laba bersih ÷ penjualan bersih
    551.000.000 ÷ 920.000.000 = 0,59
    Kesimpulan : 0,59 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan PT. ZHR 0,41 nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 0,59 nya merupakan laba bersih PT. ZHR dengan kata lain setiap Rp. 1,- penjualan PT. ZHR 41% nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 59% nya merupakan laba bersih
    c. Return On Equity
    Adalah rasio untuk megukur tingkat pengembalian yang dihasilkan oleh perusahaan untuk setiap satuan mata uang yang menjadi modal perusahaan. Dalam pengertian ini, seberapa besar perusahaan memberikan imbal hasil tiap tahunnya per satu mata uang yang diinvestasikan investor ke perusahaan tersebut
    Formula : Laba bersih ÷ modal
    551.000.000 ÷ 340.000.000 = 1,62
    Kesimpulan : 1,62 itu artinya untuk setiap Rp. 1,- investasi yang ditanamkan di PT ZHR investor mendapatkan tingkat pengembalian sebesar 1,62 .
    2. RASIO LIKUIDITAS
    “Rasio likuiditas” adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.
    a. Current Rasio
    Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya (kurang dari 1 tahunbuku) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki.
    Formula : aktiva lancar ÷ kewajiban lancar
    120.000.000 ÷ 35.000.000 = 3,4
    Kesimpulan : 3,4 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar PT. ZHR dijamin oleh 3,4 aktiva lancar, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 3,4 : 1
    b. Quick Ratio
    Merupakan rasio yang digunaka untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid.
    Formula : aktiva lancar – persediaan ÷ kewajiban lancar
    100.000.000 – 20.000.000 ÷ 35.000.000 = 2,2
    Kesimpulan : 2,2 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar PT. ZHR dijamin oleh 2,2 aktiva lancar tanpa persediaan, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 2,2 : 1
    Rasio keuangan ini sangat bermanfaat bagi anda para direktur,pengusaha, ataupun pihak – pihak yang berkepentingan di antara manfaatnya adalah sebagai berikut :
    1. Mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan perusahaan di bidang keuangan
    2. Mengetahui Kinerja Perusahaan
    3. Membantu dalam pengawasan perusahaan
    4. Membantu pimpinan perusahaan dalam pengambilan keputusan
    5. Melihat perkembangan usaha perusahaan selama beberapa waktu.
    6. Mengevaluasi strategi untuk peningkatan profit di periode selanjutnya
    7. Mengevaluasi laporan keuangan
    8. Menetapkan tujuan dari analisa

  4. Laporan Neraca
    PT Jayakarya
    Per 31 Desember 2015

    AKTIVA
    AKTIVA LANCAR
    Kas Rp30.000.000
    Piutang Rp70.000.000
    Persediaan Rp20.000.000
    TOTAL AKTIVA LANCAR Rp120.000.000
    AKTIVA TETAP
    Aktiva Tetap Rp500.000
    Akumulasi Penyusutan Harta Tetap (Rp150.000)
    TOTAL AKTIVA TETAP Rp350.000.000
    TOTAL AKTIVA Rp470.000.000

    KEWAJIBAN & EKUITAS
    KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
    Utang Usaha Rp15.000.000
    Utang Sewa Rp20.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN LANCAR Rp35.000.000
    KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
    Utang Bank Rp50.000.000
    Utang Obligasi Rp45.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Rp95.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN Rp130.000.000

    EKUITAS
    Modal disetor Rp200.000.000
    Laba Ditahan Rp140.000.000
    TOTAL EKUITAS Rp340.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS Rp470.000.000

    Laporan Laba Rugi
    PT Jayakarya
    Per 31 Desember 2015

    PENDAPATAN
    Penjualan Rp800.000.000
    Retur Penjualan Rp50.000.000
    Diskon Rp40.000.000
    Pendapatan Sewa Rp30.000.000
    TOTAL PENDAPATAN Rp920.000.000
    Harga Pokok Penjualan (COGS) Rp100.000.000
    Laba Kotor Rp820.000.000

    BIAYA
    Biaya Gaji Rp200.000.000
    Biaya Sewa Rp70.000.000
    Biaya Penyusutan Rp30.000.000
    Biaya Kurir Rp50.000.000
    Biaya Lain-Lain Rp150.000.000
    TOTAL BIAYA Rp500.000.000

    PENDAPATAN & BEBAN DILUAR USAHA
    Pendapatan Bunga Rp300.000.000
    Beban Bunga Rp40.000.000
    TOTAL BEBAN DILUAR USAHA Rp340.000.000
    LABA BERSIH Rp580.000.000
    Beban Pajak Rp29.000.000
    LABA BERSIH SETELAH PAJAK Rp551.000.000

    1. Menghitung dan membaca hasil analisis rasio profitabilitas
    “Rasio Profitabilitas” mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan cara membandingkan antara laba (profit) dengan elemen-lemen lain laporan keuangan seperti Penjualan, HPP, Aset, Ekuitas, Modal Saham, dsb
    a. Gross Profit Margin (GPM)
    GPM = Penjualan bersih – HPP ÷ Penjualan Bersih
    = 920.000-100.000÷920.000
    = 0,89 (0,89 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan PT. Jayakarya, 0,11 nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 0,89 nya digunakan untuk menutup biaya umum. Dengan kata lain setiap Rp 1,- penjualan PT. Jayakarya 11% nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 89% nya digunakan untuk menutup biaya umum)
    b. Net Profit Margin
    = Laba bersih ÷ penjualan bersih
    = 551.000.000 ÷ 920.000.000
    = 0,59 (0,59 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan PT. Jayakarya 0,41 nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 0,59 nya merupakan laba bersih PT. Jayakarya dengan kata lain setiap Rp. 1,- penjualan PT. Jayakarya 41% nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 59% nya merupakan laba bersih)
    c. Return On Equity
    = Laba bersih ÷ modal
    = 551.000.000 ÷ 340.000.000
    = 1,62 (,62 itu artinya untuk setiap Rp. 1,- investasi yang ditanamkan di PT Jayakarya investor mendapatkan tingkat pengembalian sebesar 1,62 )

    2. Menghitung dan membaca hasil analisis rasio likuiditas
    a. Current Rasio
    = aktiva lancar ÷ kewajiban lancar
    = 120.000.000 ÷ 35.000.000
    = 3,4 (3,4 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar PT. Jayakarya dijamin oleh 3,4 aktiva lancar, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 3,4 : 1)
    b. Quick Ratio
    = Aktiva lancar – persediaan ÷ kewajiban lancar
    = 100.000.000 – 20.000.000 ÷ 35.000.000
    = 2,2 (2,2 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar PT Jayakarya dijamin oleh 2,2 aktiva lancar tanpa persediaan, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 2,2 : 1)

  5. RASIO PROFABILITAS
    Berikut ini adalah laporan laba rugi dan neraca milik UMKM INDAH ALAMI pada perioda 2014.

    UMKM INDAH ALAMI
    Laporan Laba Rugi
    Untuk perioda yang berakhir pada 31 Desember 2014 (dalam rupiah)

    Penjualan 250.000.000
    (Retur Penjualan) (5.000.000)
    (Potongan Penjualan) (1.000.000)
    Penjualan Bersih 244.000.000
    (HPP) (145.000.000)
    Laba kotor 99.000.000
    Dikurangi:
    Biaya Gaji 20.000.000
    Biaya Sewa 12.000.000
    Biaya Listik, Air, Telepon 2.000.000
    Biaya Pemasaran 1.500.000
    Biaya Angkut Penjualan 3.500.000
    Biaya Perlengkapan 1.000.000
    Biaya Penyusutan Kendaraan 1.500.000
    Biaya Penyusutab Peralatan 500.000
    Total Biaya (42.000.000)
    Laba (Rgi) bersih sebelum pajak 57.000.000
    Pajak (1% dari omzet/penjualan) (2.500.000)
    Laba bersih setelah pajak 54.500.000

    Sumber: Buku Akuntansi Tanpa Stres oleh Endra Mutri Sagoro, M.Sc

    UMKM INDAH ALAMI
    Neraca
    Per 31 Desember 2014 (dalam rupiah)

    Aset Lancar
    Kas 100.000.000
    Persediaan Barang Dagang 120.000.000
    Perlengkapan 30.000.000
    Sewa Dibayar di Muka 10.000.000
    Total Aset Lancar 260.000.000
    Aset Tetap
    Kendaraan 80.000.000
    Akm. Penyusutan Kendaraan (6.000.000)
    Peralatan 40.000.000
    Akm. Penyusutan Peralatan (4.000.000)
    Total Aset Tetap 110.000.000
    Total Aset 370.000.000

    Utang Lancar
    Utang Dagang 60.000.000
    Utang Gaji 30.000.000
    Utang Pajak 10.000.000
    Utang Jangka Panjang
    Utang Bank 50.000.000
    Utang Hipotek 40.000.000
    Ekuitas
    Modal INDAH ALAMI 180.000.000
    Total Utang+Ekuitas 370.000.000

    Sumber: Buku Akuntansi Tanpa Stres oleh Endra Mutri Sagoro, M.Sc

    Gross Profit Margin (GPM)
    Semakin tinggi GPM atau margin laba kotor menunjukkan bahwa harga pokok lebih rendah jika dibandingkan dengan penjualan sehingga dapat dikatakan kegiatan produksi semakin efisien. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah GPM maka kegiatan produksi kurang efiseien. Berdasarkan Laporan Laba Rugi UMKM INDAH ALAMI, margin laba kotor yaitu:
    GPM = (Penjualan Bersih – HPP) / Penjualan Bersih
    = (Rp244.000.000 – Rp145.000.000) / Rp244.000.000
    = 0,41 atau 41%
    Angka 41% berarti bahwa dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 59% digunakan hanya untuk menutup Harga Pokok Penjualan sehingga yang tersisa hanya sebesar 41% yang digunakan untuk menutup biaya operasional dan biaya lain. Jika biaya-biaya tersebut tidak melebihi 41% maka perusahaan masih mendapatkan laba. Namun, jika biaya-biaya tersebut lebih besar dari 41% maka perusahaan tidak mendapatkan laba sehingga perlu adanya penelusuran tentang adanya kemungkinan terdapat ketidakefisienan dalam hal biaya-biaya khususnya biaya yang berhubungan dengan Harga Pokok Penjualan.
    Berdasarkan angka 41%, dapat dianalisis kinerja perusahaan. Cara yang dapat dilakukan dengan membandingkan dengan perusahaan sejenis atau dibandingkan dengan perioda-perioda sebelumnya. Sebagai contoh apabila rata-rata margin laba kotor untuk perusahaan sejenis sebesar 30% maka perusahaan dapat dikatakan efisien karena lebih besar dari rata-rata, namun sebaliknya jika rata-rata margin laba kotor untuk perusahaan sejenis sebesar 60% maka perusahaan dapat dikatakan tidak efisien. Di sisi lain, apabila pada perioda sebelumnya besarnya margin laba kotor lebih kecil (misal 35%) maka perusahaan mengalami peningkatan, sebaliknya jika pada perioda sebelumnya besarnya magin laba kotor lebih besar (misal 47%) maka perusahaan mengalami penurunan.

    Net Profit Margin (NPM)
    Semakin tinggi NPM atau margin laba bersih menunjukkan bahwa kegiatan operasioal perusahaan dalam menghasilkan laba semakin baik. Sebaliknya, semakin rendah magin laba bersih semakin rendah pula kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Berdasarkan Laporan Laba Rugi UMKM INDAH ALAMI, margin laba bersih yaitu:
    NPM = Laba Bersih Setelah Pajak / Penjualan Bersih
    = Rp54.500.000/Rp244.000.000
    = 0,22 atau 22%
    Angka 22% berarti bahwa dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 78% digunakan untuk menutup semua biaya seperti Harga Pokok Penjualan, Biaya Operasional (Gaji, Sewa, Pemasaran, dll) dan termasuk pajak yang dibayarkan. Sisa sebesar 22% merupakan laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan. Sama halnya dengan analisis pada margin laba kotor, angka 22% ini harus dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis untuk mengetahui baik buruknya kinerja perusahaan atau dibandingkan dengan perioda sebelumnya untuk mengetahui peningkatan atau penurunan kinerja perusahaan.

    Return on Asstes (ROA)
    Semakin tinggi ROA menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik khususnya keefektifan dalam pengelolaan aset perusahaan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah ROA kinerja perusahaan dalam pengelolaan aset untuk menghasilkan laba semakin tidak efektif. Berdasarkan Laporan Laba Rugi dan Neraca UMKM INDAH ALAMI, ROA yaitu sebesar:
    ROA = Laba Bersih / Total Aset
    = Rp54.500.000/Rp370.000.000
    = 0,15 atau 15%
    Angka 15% berarti bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sebesar 15% dari total aset yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Sama halnya dengan analisis margin laba kotor dan margin laba bersih, angka 15% ini harus dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis untuk mengetahui baik bururknya kinerja perusahaan dalam hal pengelolaan aset perusahaan untuk menghasilkan laba atau dibandingkan dengan perioda sebelumnya untuk mengetahui peningkatan atau penurunan kinerja perusahaan.

    Return on Equity (ROE)
    Semakin tinggi ROE menunjukkan bahwa pengelolaan modal perusahaan semakin efektif sehingga pemilik akan mendapatkan imbal hasil yang tinggi. Sebaliknya, semakin rendah ROE menunjukkan kinerja perusahaan dalam pengelolaan modal semakin tidak efektif. Berdasarkan Laporan Laba Rugi dan Neraca UMKM INDAH ALAMI, ROE yaitu sebesar:
    ROE = Laba Bersih / Ekuitas
    = Rp54.500.000/Rp180.000.000
    = 0,30 atau 30%
    Angka 30% berarti bahwa perusahaan mampu memberikan imbal hasil usaha untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan di perusahaan, pemilik mendapatkan tambahan nilai ekuitas Rp0,30. Dengan kata lain, dari total investasi yang dilakukan perusahaan, pemilik atau investor mendapatkan kenaikan nilai ekuitas sebesar 30%. Tingkat imbal balas hasil usaha sebesar 30% cukup menarik bagi pemilik atau calon investor terutama jika hanya dibandingkan dengan suku bunga deposito. Namun, apabila dilihat sebagai calon investor, selain melihat suku bunga investasi lain, harus dilihat juga tingkat atau rata-rata ROE pada perusahaan lain yang sejenis sebelum mengambil keputusan investasi.

    RASIO LIKUIDITAS
    Berikut ini adalah laporan laba rugi dan neraca milik UMKM INDAH ALAMI pada perioda 2014.
    UMKM INDAH ALAMI
    Neraca
    Per 31 Desember 2014 (dalam rupiah)

    Aset Lancar
    Kas 100.000.000
    Persediaan Barang Dagang 120.000.000
    Perlengkapan 30.000.000
    Sewa Dibayar di Muka 10.000.000
    Total Aset Lancar 260.000.000
    Aset Tetap
    Kendaraan 80.000.000
    Akm. Penyusutan Kendaraan (6.000.000)
    Peralatan 40.000.000
    Akm. Penyusutan Peralatan (4.000.000)
    Total Aset Tetap 110.000.000
    Total Aset 370.000.000

    Utang Lancar
    Utang Dagang 60.000.000
    Utang Gaji 30.000.000
    Utang Pajak 10.000.000
    Utang Jangka Panjang
    Utang Bank 50.000.000
    Utang Hipotek 40.000.000
    Ekuitas
    Modal INDAH ALAMI 180.000.000
    Total Utang+Ekuitas 370.000.000

    Sumber: Buku Akuntansi Tanpa Stres oleh Endra Mutri Sagoro, M.Sc

    Current Ratio (CR)
    Tidak ada angka pasti untuk menentukan ideal tidaknya CR. Secara umum CR ideal berkisar 2-3 atau 200%-300%. Semakin ideal CR menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar semua utang jangka pendeknya atau dapat dikatakan perusahaan dalam keadaan sehat. Sebaliknya, semakin tidak ideal CR (kurang dari 1 atau 100%) berarti bahwa perusahaan dalam kondisi tidak sehat dikarenakan kesulitan untuk membayar utang mereka dengan aset yang dimiliki. Berdasarkan Neraca UMKM INDAH ALAMI, CR sebesar:
    CR = Aset Lancar/Utang Lancar
    = Rp260.000.000/Rp100.000.000
    = 2,6 atau 260%
    Angka 2,60 berarti bahwa setiap Rp 1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp2,60 aset lancar. Jika perusahaan punya utang lancar sebesar Rp10.000 perusahaan memiliki jaminan atas utang tersebut sebesar Rp26.000. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi semua utang jangka pendeknya. Aset lancar yang dimiliki perusahaan cukup besar. Hasil penjualan semua aset lancar dapat menutup sampai dengan 260% dari total utang lancarnya. Perusahaan dengan CR antara 2-3 atau 200%-300% dapat dikatakan perusahaan tersebut dalam kondisi sehat. Namun, secara umum baik tidaknya CR dinilai berdasarkan penilaian manajemen dan target dari perusahaan.

    Quick Ratio (QR)
    Sama halnya dengan CR, tidak ada angka pasti untuk menentukan ideal tidaknya QR. Secara umum QR ideal berkisar 1,5-2 atau 150%-200%. Semakin ideal QR menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar semua utang jangka pendeknya dengan semua aset lancarnya setelah dikurangi persediaan atau dapat dikatakan perusahaan dalam keadaan sehat. Sebaliknya, semakin tidak ideal QR (kurang dari 1 atau 100%) berarti bahwa perusahaan dalam kondisi tidak sehat atau tidak likuid dikarenakan kesulitan untuk membayar utang mereka dengan aset lancar yang dimiliki. Berdasarkan Neraca UMKM INDAH ALAMI, QR sebesar:
    QR = (Aset Lancar – Persediaan – Persekot Biaya) / Utang Lancar
    = (Rp260.000.000-Rp120.000.000-Rp10.000.000)/Rp100.000.000
    =1,30 atau 130%
    Angka 1,30 berarti bahwa setiap Rp 1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp1,30 aset lancar yang telah dikurangi persediaan dan persekot biaya. Jika perusahaan punya utang lancar sebesar Rp10.000 perusahaan memiliki jaminan atas utang tersebut sebesar Rp13.000. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan melunasi semua utang jangka pendeknya. Hasil penjualan semua aset lancar kecuali persediaan dan persekot biaya dapat menutup sampai dengan 130% dari total utang lancarnya. Perusahaan dengan QR antara 1,5-2 atau 150%-200% dapat dikatakan perusahaan tersebut dalam kondisi sehat.

  6. D3 Akuntansi_18809134073_Estiana Nurcahyani

    1. Menolak pesanan karena kemampuan yang belum memadai seandainya menggunakan waktu lembur maka biaya justru akan bertambah.
    2. UMKM tersebut tidak membuat laporan keuangan dan kemungkinan uang pribadi di campur dengan uang perusahaan sehingga sulit untuk diketahui laba atau rugi nya.
    3. UMKM harus memiliki catatan berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut kemudian menganalisis biaya tersebut untuk menentukan harga yang pas dengan mempertimbangkan faktor Intern yang meliputi harga pokok penjualan dan jangan waktu perputaran modal, dan faktor ekstern antara lain Harga pokok sejenis, harga pokok barang substitusi, daya beli masyarakat, peraturan pemerintah dan letak geografis.
    4. Dengan modal financial yang terbatas supaya calon pelaku usaha dapat menjalankan usaha sesuai dengan harapan maka calon pelaku usaha sebaiknya memulai usaha dengan usaha kecil untuk mengumpulkan modal yang lebih banyak dari laba usaha kecil tersebut.
    5. Semakin berkembangnya zaman, sudah banyak otomatisasi dan peran teknologi di masyarakat. Sekarang ini semua serba online, sehingga Bisnis yang cocok untuk Tahun 2020 adalah Bisnis online. Pelaku usaha dapat membuka Bisnis online tapi sebelumnya pelaku usaha harus benar-benar memiliki kemampuan teknologi informasi yang mencukupi.

  7. D3 Akuntansi B_18809134073_Estiana Nurcahyani

    – Contoh Laporan Laba/Rugi

    Pendapatan :
    Pendapatan diterima dimuka Rp 1.500.000
    Pendapatan Jasa Rp 128.550.000
    Total pendapatan Rp 130.050.000

    Beban :
    Beban Upah dan Gaji Rp 112.630.000
    Beban Asuransi Rp 2.600.000
    Beban Perlengkapan Rp 1.245.000
    Beban Penyusutan Peralatan Rp 5.500.000
    Total Beban Rp 121.975.000
    Laba bersih Rp 8.075.000

    Penjelasan :
    Untuk menghitung laporan laba/rugi, pelaku usaha harus mengetahui terlebih dahulu pendapatan apa saja yang masuk dan beban apa saja yang keluar beserta jumlah nya dengan membuat jurnal. Kemudian untuk mengetahui besarnya laba/rugi dapat dihitung dengan total pendapatan dikurangi total Beban. Apabila hasilnya plus berarti laba dan apabila hasilnya minus berarti rugi.

    – Contoh Laporan Posisi Keuangan

    Aset
    Aset Lancar
    Kas Rp 76.000.000
    Piutang Usaha Rp 26.050.000
    Perlengkapan Rp 475.000
    Asuransi dibayar dimuka Rp 1.900.000
    Jumlah Aset Lancar Rp 104.425.000

    Aset tetap
    Peralatan Rp 90.100.000
    Akun. Peny. Peralatan (Rp 70.800.000)
    Jumlah Aset tetap Rp 19.300.000
    Jumlah Aset Rp 123.725.000

    Liabilitas
    Utang Usaha Rp 8.100.000
    Utang Gaji Rp 2.050.000
    Pendapatan diterima dimuka Rp 1.500.000
    Total liabilitas Rp 11.650.000

    Ekuitas
    Modal Rp 115.500.000
    Prive (Rp 3.425.000)
    Total Liabilitas + Ekuitas Rp 123.725.000

    Penjelasan :
    Laporan Posisi Keuangan adalah bagian dari laporan keuangan suatu entitas yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan entitas tersebut pada akhir periode tersebut. Laporan ini digunakan untuk mengetahui kesehatan perusahaan. Neraca dapat digunakan untuk menganalisis likuiditas keuangan perusahaan. Laporan ini dihitung dengan rumus Aset = Liabilitas + Ekuitas.

  8. Laporan Laba Rugi

    UMKM INDAH ALAMI
    Laporan Laba Rugi
    31 Desember 2014 (dalam rupiah)

    Penjualan 250.000.000
    (Retur Penjualan) (5.000.000)
    (Potongan Penjualan) (1.000.000)

    Penjualan Bersih 244.000.000
    (HPP) (145.000.000)
    Laba Kotor 99.000.000
    Dikurangi :
    Biaya Gaji 20.000.000
    Biaya Sewa 12.000.000
    Biaya LAT 2.000.000
    Biaya Pemasaran 1.500.000
    Biaya Angkut Penjulan 3.500.000
    Biaya Perlengkapan 1.000.000
    Biaya penyusutan kendaraan 1.500.000
    Biaya Penyusutan Peralatan 500.000
    Total Biaya (420.000.000)

    Laba(Rugi) bersih sebelum pajak 57.000.000
    Pajak (1%dari omzet/penjualan) (2.500.000)
    Laba Bersih Setelah Pajak 54.500.000

    Neraca

    UMKM INDAH ALAMI
    NERACA
    31 DESEMBER 2014
    Aset Lancar
    Kas 100.000.000
    Persediaan Barang Dagang 120.000.000
    Perlengkapan 30.000.000
    Sewa dibayar di muka 10.000.000
    Total Asset Lancar 260.000.000

    Aset Tetap
    Kendaraan 80.000.000
    Akm. Penyusutan Kendaraan (6.000.000)
    Peralatan 40.000.000
    Akm Penyusutan Peralatan (4.000.000)
    Total Aset Tetap 110.000.000

    Total Aset 370.000.000

    Utang Lancar
    Utang Dagang 60.000.000
    Utang Gaji 30.000.000
    Utang Pajak 10.000.000

    Utang Jangka Panjang
    Utang Bank 50.000.000
    Utang Hipotek 40.000.000

    Ekuitas
    Modal Indah Alami 180.000.000

    Total Utang+Ekuitas 370.000.000

    Rasio Profitabilitas

    A. Gross Profit Margin (GPM)
    GPM = (Penjualan Bersih-HPP)/Penjualan Bersih
    GPM = (244.000.000-145.000.000)/244.000.000
    GPM = 0,41 atau 41%

    Angka 41% berarti bahwa dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 59% digunakan hanya untuk menutup harga pokok penjualan sehingga yang tersisa hanya sebesar 41% yang digunakan untuk menutup biaya operasional. Jika biaya-biaya tersebut tidak melebihi 41% maka perusahaan masih mendapatkan laba begitu pula sebaliknya.

    B. Net Profit Margin (NPM)
    NPM = Laba Bersih Setelah Pajak/Penjualan Bersih
    NPM = 54.500.000/244.000.000
    NPM = 0,22 Atau 22%

    Semakin tinggi NPM menunjukkan bahawa kegiatan operasional perusahaan dalam menghasilkan laba semakin baik. Sebaliknya semakin rendah margin laba bersih semakin rendah pula perusahaan menghasilkan laba.

    C. Return on Assets (ROA)
    ROA = Laba Bersih / Total Aset
    ROA = 54.400.000 / 370.000.000
    ROA = 0,15% atau 15%

    Semakin tinggi ROA menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik khususnya keefektifan dalam pengelolaan asset perusahaan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah ROA kinerja perusahaan dalam pengelolaan asset untuk menghasilkan laba semakin tidak efektif.

    D. Return on Equity (ROE)
    ROE = Laba Bersih / Ekuitas
    ROE = 54.500.000 / 180.000.000 = 0,30 atau 30%

    Semakin tinggi ROE menunjukkan bahwa pengelolaan modal perusahaan semakin efektif sehingga pemilik akan mendapatkan imbal hasil yang tinggi. Sebaliknya, semakin Rendah ROE menunjukkan kinerja perusahaan dalam pengelolaan modal semakin tidak efektif.

    Rasio Likuiditas
    A. Current Ratio (CR)
    CR = Aset Lancar /Utang Lancar
    CR = 260.000.000 / 100.000.000
    CR = 2,6 atau 260%

    Setiap Rp 1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp 2,60 aset lancar. Jika perusahaan punya utang lancar sebesar 10.000 perusahaan memiliki jaminan atas utang tersebut sebesar 26.000. hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi semua utang jangka pendeknya.

    B. Quick Ratio (QR)
    QR = (Aset Lancar – Persediaan – Persekot biaya) / Utang lancar
    QR = (260.000.000 – 120.000.000-10.000.000) / 100.000.000
    QR = 1,30 atau 130%

    Setiap Rp 1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,30 aset lancar yang telah dikurangi persediaan dan persekot biaya, jika perusahaan mempunyai utang lancar sebesar 10.000 perusahaan memiliki jaminan atas uang tersebut sebesar 13.000, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi semua utang jangka pendeknya.

  9. NERACA
    -AKTIVA
    –Aktiva Lancar
    Kas = 30.000.000
    Piutang = 70.000.000
    Persediaan = 20.000.000
    –Total Aktiva Lancar = 120.000.000
    –Aktiva Tetap
    –Aktiva tetap = 500.000.000
    Akumulasi penyusutan aktiva tetap = (150.000.000)
    –Total Aktiva Tetap = 350.000.000
    -TOTAL AKTIVA = 470.000.000
    -UTANG & EKUITAS
    –UTANG
    Utang Jangka Pendek
    Utang usaha = 15.000.000
    Utang sewa = 20.000.000
    —Total Utang Jangka Pendek = 35.000.000
    Utang Jangka Pangjang
    Utang bank = 50.000.000
    Utang obligasi = 45.000.000
    —Total Utang Jangka Panjang = 95.000.000
    –TOTAL KEWAJIBAN = 130.000.000
    –EKUITAS
    Modal Pemilik = 200.000.000
    Laba ditahan = 140.000.000
    –TOTAL EKUITAS = 340.000.000
    -TOTAL UTANG & EKUITAS = 470.000.000

    LAPORAN LABA RUGI
    -PENDAPATAN
    Penjualan = 800.000.000
    Return penjualan = (50.000.000)
    Diskon = (40.000.000)
    -TOTAL PENDAPATAN / PENJULAN BERSIH= 710.000.000
    Hpp = (100.000.000)
    LABA KOTOR = 610.000.000
    -BIAYA
    Biaya gaji = 200.000.000
    Biaya sewa = 70.000.000
    Biaya penyusutan = 30.000.000
    Biaya kurir = 50.000.000
    Biaya lain-lain = 150.000.000
    -TOTAL BIAYA = 500.000.000
    -PENDAPATAN LUAR USAHA
    Pendapatan bunga = 300.000.000
    Pendapatan sewa = 30.000.000
    -BEBAN LUAR USAHA =
    Beban bunga = 40.000.000
    LABA BERSIH = (610.000.000-500.000.000)+(330.000.000-40.000.000) = 400.000.000
    Beban pajak = 29.000.000
    LABA BERSIH SETELAH PAJAK = 371.000.000

    ANALISIS RATIO PROFITABILITAS DAN LIKUIDITAS (Dalam Ribuan Rupiah)
    1.Rasio Profitabilitas
    a.Gross Profit Margin (GPM) = (Penjualan Bersih – HPP)/Penjualan Bersih = (710.000-100.000)/710.000 = 0.85 → 0.85 diartikan jika setiap Rp1 penjualan, 0.15nya digunakan untuk menutup HPP, sementara 0.85nya digunakan untuk menutup biaya umum.
    b.Nett Profit Margin = Laba Bersih/Penjualan Bersih = 371.000/710.000 = 0.52→ diartikan jika setiap Rp1 penjualan, 0.48nya digunakan untuk menutup hpp, biaya, dan pajak. Sementara 0.52nya merupakan laba bersih.
    c.Return on Equity (ROE) = Laba Bersih/Modal = 371.000/340.000 = 1.09 → 1.09 diartikan jika setiap Rp1 investasi yang ditanamkan investor mendapakan tingkat pengembalian sebesar 1.09.
    2.Rasio Likuiditas
    a.Current Ratio = Aktiva Lancar/Utang Lancar = 120.000/35.000 = 3.4 → 3.4 diartikan jika setiap Rp1 utang lancar dijamin oleh 3.4 aktiva lancar dengan perbandingan 3.4:1
    b.Quick Ratio = (Aktiva Lancar-Persediaan)/Utang Lancar = (100.000-20.000)/35.000 = 2.2 → 2.2 diartikan jika setiap Rp1 utang lancar dijamin oleh 2.2 aktiva lancar tanpa persediaan, jadi perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar adalah 2.2:1.

    *sumber : https://zahiraccounting.com/id/blog/cara-mudah-memahami-rasio-keuangan-dan-manfaatnya-bagi-pengusaha/

  10. PT ASIH JAYA
    Laporan Laba/Rugi
    31 Desember 2018
    Penjualan Rp 300,000,000.00
    (Retur Penjualan) -Rp 7,000,000.00
    (Potongan Penjualan) -Rp 1,500,000.00
    Penjualan Bersih Rp 291,500,000.00
    (HPP) -Rp 178,500,000.00
    Laba Kotor Rp 113,000,000.00
    Dikurangi:
    Biaya Gaji Rp 18,000,000.00
    Biaya Sewa Rp 16,000,000.00
    Biaya Listrik, Air, Teleon Rp 1,500,000.00
    Biaya Pemasaran Rp 1,000,000.00
    Baya Angkut Penjualan Rp 2,500,000.00
    Biaya Perlengkaan Rp 2,000,000.00
    Biaya Penyusutan Kendaraan Rp 2,500,000.00
    Biaya Penyusutan Peralatan Rp 500,000.00
    Total Biaya Rp 44,000,000.00
    Laba (Rugi) bersih sebelum ajak Rp 69,000,000.00
    Pajak (1% dari omzet/penjualan) -Rp 3,000,000.00
    Laba bersih setelah pajak Rp 54,500,000.00

    PT ASIH JAYA
    Neraca
    31 Desember 2018
    Aset Lancar Utang Lancar
    Kas Rp 120,000,000.00 Utang dagang Rp 67,000,000.00
    Persediaan Barang Dagang Rp 130,000,000.00 Utang gaji Rp 37,000,000.00
    Perlengkapan Rp 40,000,000.00 Utang Pajak Rp 10,000,000.00
    Sewa Dibayar di Muka Rp 12,000,000.00 Utang Jangka Panjang
    Total Aset Lancar Rp 302,000,000.00 Utang Bank Rp 63,000,000.00
    Aset Tetap Utang Hipotek Rp 40,000,000.00
    Kendaraan Rp 95,000,000.00 Ekuitas
    Akm. Penyusutan Kendaraan -Rp 11,000,000.00 Modal ASIH JAYA Rp 203,500,000.00
    Peralatan Rp 40,000,000.00
    Akm. Penyusutan Peralatan -Rp 5,500,000.00
    Total Aset Tetap Rp 118,500,000.00
    Total Aset Rp 420,500,000.00 Total Utang + Ekuitas Rp 420,500,000.00
    Analisis Profitabilitas
    1. Gross Profit Margin (GPM)
    Bertujuan mengukur efisiensi pengendalian HPP
    Gross Profit Margin (GPM) = (Penjualan Bersih-HPP)/Penjualan Bersih
    Rp113,000,000.00 / Rp291,500,000.00
    = 0.387650086
    PT Asih Jaya memiliki margin laba kotor sebesar 39% yang digunakan untuk biaya operasional dan biaya lain lain dari penjualan bersih yang didapatkan, sehingga 61% yang didapatkan untuk menutup HPP. Jika biaya yang dikeluarkan melebihi 39% maka PT Asih Jaya tidak mendapatkan laba.

    2. Net Profit Margin (NPM)
    Bertujuan untuk memunjukan kemampuan perusahaan untuk memberi “sisa” laba bersih bagi pemilik atau investor.
    Net Profit Margin (NPM) = Laba Bersih Setelah Pajak/Penjualan Bersih
    Rp54,500,000.00/Rp291,500,000.00
    = 0.186963979
    Total penjualan bersih PT Asih Jaya adalah 19%. Sisanya sebesar 81% digunakan untuk menutup semua biaya seperti HPP, Biaya Operasional dan pajak. Jadi laba bersih yang didapatkan adalah 19%
    3. Return on Assets (ROA)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur keefektifan pengguna aset milik perusahaan yang dikelola manajemen untuk menghasilkan laba bagi perusahaan
    Return on Assets (ROA) = Laba Bersih/Total Asset
    Rp54,500,000.00 / Rp420,500,000.00
    = 0.12960761
    Sebesar 13% laba yang didapatkan oleh PT Asih Jaya. Jadi semakin tinggi ROA yang dihasilkan maka semakin baik keefektifan dalam mengelola aset perusahaan.

    4. Return on Equity (ROE)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur keefektifan perusahaan dalam mengelola modal sendiri untuk menghasilkan laba.
    Return on Equity (ROE) = Laba Bersih/Ekuitas
    Rp54,500,000.00/Rp203,500,000.00
    = 0.267813268
    PT Asih Jaya mempu memberikan imbalan hasil usaha sebesar 27%. Jadi semakin rendah REO yang dihasilkan oleh suatu perusahaan maka semakin tidak efektif dalam pengelolaan modal.
    Analisis Likuiditas
    Rasio Likuiditas bertujuan untuk menukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang secara khusus utang jangka pendek.
    1. Current Ratio (CR)

    Current Ratio (CR) = Aset Lancar/Utang Lancar
    Rp 302,000,000.00/Rp 114,000,000.00
    = 2.649122807

    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar untang jangka pendek. Ideal CR berkisar 200%-300%. PT Asih Jaya memiliki 260% yang berarti termasuk dalam kategori ideal. Jika kurang dari 100% pengolahan aset perusahaan kurang efektif.

    2. Quick Ratio (QR)
    Quick Ratio (QR) = Aset Lancar-Persediaan-Persekot Biaya/Utang Lancar
    Rp 160,000,000.00 / Rp 114,000,000.00
    = 1.403508772

    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendek dengan aset yang likuid atau yang cepat untuk di uangkan. Ideal QR berkisar 150%-200%. Jika kurang dari 100% berarti perusahaan dalam kondisi tidak sehat atau tidak likuid dikarenakan kesulitan untuk membayar utang. PT Asih Jaya memiliki kemampuan untuk membayar kewajiban sebesar 140%. Jadi setiap Rp1 utang lancar dapat dijamin sebesar Rp1,40 aset lancar.

    Referensi : Endra Murti Sagoro, M.Sc.”Akuntansi Tanpa Stress”

  11. 1. RASIO PROFITABILITAS
    UMKM INDAH ALAMI
    Laporan Laba Rugi
    Untuk perioda yang berakhir pada 31 Desember 2014 (dalam rupiah)
    Penjualan 250.000.000
    (Retur penjualan) (5.000.000)
    (Potongan Penjualan) (1.000.000)
    penjulan bersih 244.000.000
    (HPP) (145.000.000)
    Laba kotor 99.000.000
    Dikurangi :
    Biaya gaji 20.000.000
    Biaya sewa 12.000.000
    Biaya listrik, air, telepon 2.000.000
    Biaya pemasaran 1.500.000
    Biaya angkut penjualan 3.500.000
    Biaya perlengkapan 1.000.000
    Biaya penyusutan kendaraan 1.500.00
    Biaya penyusutan peralatan 500.000
    Total biaya (42.000.000)
    Laba (Rugi) bersih sebelum pajak 57.000.000
    Pajak (1% dari omzet/penjualan) (2.500.000)
    Laba bersih setelah pajak 54.500.000

    UMKM INDAH ALAMI
    Neraca
    Per 31 Desember 2014 ( dalam rupiah)
    Asset Lancar
    Kas 100.000.000
    Persediaan barang dagang 120.000.000
    Perlengkapan 30.000.000
    Sewa Dibayar Dimuka 10.000.000
    Total asset lancar 260.000.000
    Asset Tetap
    Kendaraan 80.000.000
    Akm. Penyusutan Kendaraan (6.000.000)
    Peralatan 40.000.000
    Akm. Penyusutan peralatan (4.000.000)
    Total Aset Tetap 110.000.000
    Total Aset 370.000.000

    Utang Lancar
    Utang Dagang 60.000.000
    Utang Gaji 30.000.000
    Utang Pajak 10.000.000
    Utang Jangka Panjang
    Utang Bank 50.000.000
    Utang Hipotek 40.000.000
    Ekuitas
    Modal INDAH ALAMI 180.000.000
    TOTAL Utang + Ekuitas 370.000.000

    a. Gross Profit margin
    Raiso ini digunakan untuk mengukur efisiensi pengendalian harga pokok produksi atau biaya produksi.

    Gross Profit margin = (penjualan bersih-HPP)/Penjualan Bersih

    = (244.000.000-145.000.000)/244.000.000
    = 0,41atau 41%.
    Angka 41% berarti dari total penjualan yang didapatkan, sebesar 59% digunakan hanya untuk menutup HPP, sehingga hanya 41% untuk menutup biaya operasional dan biaya lain. Atau dapat diartikan setiap Rp.1 penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp.0,41.

    b. Net Profit Margin
    NPM digunakan untuk untuk membandingkan laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih.

    Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak/Penjulan bersih

    = 54.500.000/244.000.000
    =0,22atau 22%.
    Angka 22%, berarti dari total penjulan bersih didapatkan, sebesar 78% digunakan untuk menutup semua biaya. Sisa sebesar 22% merupakan laba bersih yang didapatkan perusahaan. Angka tersebut harus dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis untuk mengetahui baik buruknya kinerja perusahaan.

    c. Return on Assets
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kefektifan penggunaan asset milik perusahaan yang dikelola manajenen untuk menghasilkan laba bagi perusahaan.

    Return on Assets = Laba Bersih/Total Aset

    = 54.500.000/370.000.000
    =0,15%
    =15%
    Angka 15% menunjukan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sebesar 15% dari total asset yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Atau dengan Rp.1 menghasilkan laba bersih Rp.0,15. Untuk mengetahui baik buruknya kinerja perusahaan nilai ini harus dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis.

    d. Return on Equity
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk dapat memberikan hasil usaha bagi setiap investasi dalam bentuk ekuitas yang ditanamkan pemilik di sebuah perusahaan.

    Return on Equity = Laba Bersih/Ekuitas

    =54.500.000/180.000.000
    =0,30
    =30%
    Angka 30% menunjukkan bahwa perusahaan mampu memberikan imbal hasil usaha untuk Rp.1 yang diinvestasikan, pemilik mendapat tambahan nilai ekuitas Rp0,30. Atau pemilik atau investor mendapat kenaikan nilai ekuitas sebesar 30%.

    2. RASIO LIKUIDITAS
    Jika diketahui data berdasarkan data dalam neraca sebagai berikut:
    Kas Rp 50.000.000
    Piutang dagang Rp 100.000.000
    Piutang lain-lain Rp 2.000.000
    Persediaan Rp 75.000.000
    Perlengkapan Rp 5.000.000
    Hutang dagang Rp 20.000.000
    Hutang bank Rp 10.000.000
    Hutang lain-lain Rp 15.000.000

    Aktiva Lancar = Kas + piutang dagang + piutang lain-lain + persediaan + perlengkapan usaha

    = Rp 50.000.000 + Rp 100.000.000 + Rp 2.000.000 + Rp 75.000.000 + Rp 5.000.000
    = Rp 232. 000.000

    Utang Lancar = Rp 20.000.000 + Rp 10.000.000 + Rp 15.000.000
    = Rp 45.000.000

    a. Rasio lancar (current ratio)

    Current Ratio = Aktiva Lancar/Utang Lancar

    Current Ratio = Rp 232. 000.000/Rp 45.000.000
    = 5,15
    Artinya adalah, setiap Rp 1 hutang lancer dijamin dengan Rp 5,15 aktiva lancar
    b. Rasio cepat (quick ratio)

    Quick ratio =(Aktiva Lancar – Persediaan-Persekot Biaya)/Utang Lancar

    = (Rp 232. 000.000 – Rp 75.000.000)/Rp 45.000.000
    = Rp 157.000.000/Rp 45.000.000
    = 3,48
    Artinya adalah, kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancer dengan aktiva adalah setiap Rp 1 hutang lancer dengan Rp 3,48 aktiva lancar yang likuid.
    c. Rasiokas (cash ratio)

    Cash ratio = Kas atau Setara/Utang Lancar

    = Rp 50.000.000 /Rp 45.000.000
    = 1,1
    Artinya adalah, kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancer dengan kas adalah setiap Rp 1 hutang lancer dengan Rp 1,1 kas perusahaan.

    Sumber : https//www.stanakuntansi.com
    Sagoro, EndraMurti. 2015. AkuntansiTanpaStres. Yogyakarta:Abpublisher

  12. Motor-Motor Network
    Laporan Laba Rugi
    31 Januari 2017

    PENJUALAN
    Penjualan motor Rp 158.265.000
    Potongan Penjualan Rp –
    Retur Penjualan Rp –
    Total Penjualan Rp 158.265.000

    Pembelian Rp 127.355.000
    Potongan pembelian Rp –
    Retur Pembelian Rp (6.951.000)
    Pembelian Bersih Rp 120.404.000
    Pers. Motor awal Rp 189.501.000
    Total Rp 309.905.000
    Pers. Motor Akhir Rp (200.884.000)

    Harga Pokok Penjualan Rp (109.021.000)
    Laba/Rugi Kotor Rp 49.244.000

    BIAYA-BIAYA
    Biaya Gaji Rp 8.500.000
    Biaya Admin Rp –
    Biaya Iklan Rp 500.000
    Biaya Listrik,air,telp Rp 534.000
    Biaya Sewa Rp 1.750.000
    Biaya perlengkapan kantor Rp 250.000
    Biaya Peny. Peralatan kantor Rp 300.000
    Biaya Peny. Kendaraan Rp 477.500
    Biaya Service Rp 322.000
    Biaya Operasional Lain Rp 140.000

    Total Biaya Rp 12.773.500
    Laba/Rugi Rp 36.470.500

    PENDAPATAN LAIN
    Bunga Bank Rp 1.955.438
    BIAYA LAIN
    Biaya bunga Rp –
    Administrasi Bank Rp 623.000

    Rp 1.332.438
    LABA/RUGI periode 2017 Rp. 37.802.938

    Motor-Motor Network
    Neraca
    31 Januari 2017

    AKTIVA
    Aktiva Lancar :
    Kas Rp 194.535.000
    Bank Permata Rp 125.598.208
    Bank Mutiara Rp 74.389.000
    Piutang Rp 22.525.500
    Persediaan Motor Rp 200.884.000
    Perlengkapan Kantor Rp 4.955.000
    Sewa dibayar dimuka Rp 52.500.000
    Iklan dibayar dimuka Rp 1.000.000
    Total Aktiva Lancar Rp 676.386.708

    Aktiva Tetap :
    Peralatan Kantor Rp 25.000.000
    Akum. Peny. Prltan Kantor Rp (2.100.000)
    Kendaraan Rp 83.000.000
    Akum. Peny. Prltan Kantor Rp (2.465.000)
    Total Aktiva Tetap Rp 103.435.000

    TOTAL AKTIVA Rp 779.821.738

    PASIVA
    Utang lancar
    Utang Usaha Rp 206.977.200
    Uang Muka Customer Rp –
    PPn Masukan Rp (12.040.400)
    PPn Keluaran Rp 15.826.500
    Total Utang Lancar Rp 210.763.300

    Modal:
    Modal Usaha Rp 500.000.000
    Laba Ditahan Rp 31.255.500
    Laba periode berjalan Rp 37.802.938
    Total Modal Rp 569.058.438

    TOTAL PASIVA Rp 779.821.738

    Sumber : https://manajemenkeuangan.net/contoh-laporan-keuangan-perusahaan-dagang-lengkap/

    PROFITABILITAS PERUSAHAAN
    Gross Profit Margin
    = (Laba kotor/ Penjualan) x 100%
    = (Rp 49.244.000 / Rp 158.265.000) x 100%
    = 31,11%
    Artinya dari volume penjualan atau setiap Rp 100 dari penjualan bersih akan menghasilkan laba kotor sebesar Rp 31,11

    Net Profit Margin
    = (Laba Bersih / Penjualan) x 100%
    = (Rp 37.802.938 / Rp 158.265.000)
    = 23,88%
    Artinya setiap Rp 100 penjualan akan menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp 23,88

    Return on Assets Ratio (ROA)
    = (Laba Bersih / Total Aset) x 100%
    = Rp 37.802.938 / Rp 779.821.738
    =4,85%
    Artinya tingkat pengembalian asset pada Motor-Motor Network sebesar 4,85% dan angka ini baik karena batas minimal ROA suatu perusahaan adalah 2%

    Return on Equity Ratio
    = (Laba Bersih / Modal Usaha) x 100%
    = Rp 37.802.938 / Rp 500.000.000
    = 7,56%
    Artinya setiap Rp 100 modal sendiri yang diinvestasikan memberikan keuntungan sebesar Rp 7,56

    LIKUIDITAS PERUSAHAAN
    a. Current Ratio
    = Aktiva Lancar / Kewajiban Lancar
    = Rp 676.386.708 / Rp 210.763.300
    = 3,20922 atau 320,92%

    Artinya setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 3,20922 aktiva lancer

    b. Quick Ratio
    = (Aktiva Lancar – Persediaan) / Kewajian Lancar
    = (Rp 676.386.708 – Rp 200.884.000) / Rp 210.763.300
    = Rp 475.502.708 / Rp 210.763.300
    = 2,2560 atau 225,60%

    Artinya kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar dengan aktiva perusahaan adalah setiap Rp 1 hutang lancer dijamin dengan Rp 2,2560 aktiva lancar yang likuid atau dalam bentuk uang bukan persediaan barang dagangan.

  13. Motor-Motor Network
    Laporan Laba Rugi
    31 Januari 2017

    PENJUALAN
    Penjualan motor Rp 158.265.000
    Potongan Penjualan Rp –
    Retur Penjualan Rp –
    Total Penjualan Rp 158.265.000

    Pembelian Rp 127.355.000
    Potongan pembelian Rp –
    Retur Pembelian Rp (6.951.000)
    Pembelian Bersih Rp 120.404.000
    Pers. Motor awal Rp 189.501.000
    Total Rp 309.905.000
    Pers. Motor Akhir Rp (200.884.000)

    Harga Pokok Penjualan Rp (109.021.000)
    Laba/Rugi Kotor Rp 49.244.000

    BIAYA-BIAYA
    Biaya Gaji Rp 8.500.000
    Biaya Admin Rp –
    Biaya Iklan Rp 500.000
    Biaya Listrik,air,telp Rp 534.000
    Biaya Sewa Rp 1.750.000
    Biaya perlengkapan kantor Rp 250.000
    Biaya Peny. Peralatan kantor Rp 300.000
    Biaya Peny. Kendaraan Rp 477.500
    Biaya Service Rp 322.000
    Biaya Operasional Lain Rp 140.000

    Total Biaya Rp 12.773.500
    Laba/Rugi Rp 36.470.500

    PENDAPATAN LAIN
    Bunga Bank Rp 1.955.438
    BIAYA LAIN
    Biaya bunga Rp –
    Administrasi Bank Rp 623.000

    Rp 1.332.438
    LABA/RUGI periode 2017 Rp. 37.802.938

    Motor-Motor Network
    Neraca
    31 Januari 2017

    AKTIVA
    Aktiva Lancar :
    Kas Rp 194.535.000
    Bank Permata Rp 125.598.208
    Bank Mutiara Rp 74.389.000
    Piutang Rp 22.525.500
    Persediaan Motor Rp 200.884.000
    Perlengkapan Kantor Rp 4.955.000
    Sewa dibayar dimuka Rp 52.500.000
    Iklan dibayar dimuka Rp 1.000.000
    Total Aktiva Lancar Rp 676.386.708

    Aktiva Tetap :
    Peralatan Kantor Rp 25.000.000
    Akum. Peny. Prltan Kantor Rp (2.100.000)
    Kendaraan Rp 83.000.000
    Akum. Peny. Prltan Kantor Rp (2.465.000)
    Total Aktiva Tetap Rp 103.435.000

    TOTAL AKTIVA Rp 779.821.738

    PASIVA
    Utang lancar
    Utang Usaha Rp 206.977.200
    Uang Muka Customer Rp –
    PPn Masukan Rp (12.040.400)
    PPn Keluaran Rp 15.826.500
    Total Utang Lancar Rp 210.763.300

    Modal:
    Modal Usaha Rp 500.000.000
    Laba Ditahan Rp 31.255.500
    Laba periode berjalan Rp 37.802.938
    Total Modal Rp 569.058.438

    TOTAL PASIVA Rp 779.821.738

    Sumber : https://manajemenkeuangan.net/contoh-laporan-keuangan-perusahaan-dagang-lengkap/

    PROFITABILITAS PERUSAHAAN
    Gross Profit Margin
    = (Laba kotor/ Penjualan) x 100%
    = (Rp 49.244.000 / Rp 158.265.000) x 100%
    = 31,11%
    Artinya dari volume penjualan atau setiap Rp 100 dari penjualan bersih akan menghasilkan laba kotor sebesar Rp 31,11

    Net Profit Margin
    = (Laba Bersih / Penjualan) x 100%
    = (Rp 37.802.938 / Rp 158.265.000)
    = 23,88%
    Artinya setiap Rp 100 penjualan akan menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp 23,88

    Return on Assets Ratio (ROA)
    = (Laba Bersih / Total Aset) x 100%
    = Rp 37.802.938 / Rp 779.821.738
    =4,85%
    Artinya tingkat pengembalian asset pada Motor-Motor Network sebesar 4,85% dan angka ini baik karena batas minimal ROA suatu perusahaan adalah 2%

    Return on Equity Ratio
    = (Laba Bersih / Modal Usaha) x 100%
    = Rp 37.802.938 / Rp 500.000.000
    = 7,56%
    Artinya setiap Rp 100 modal sendiri yang diinvestasikan memberikan keuntungan sebesar Rp 7,56

    LIKUIDITAS PERUSAHAAN
    Current Ratio
    = Aktiva Lancar / Kewajiban Lancar
    = Rp 676.386.708 / Rp 210.763.300
    = 3,20922 atau 320,92%

    Artinya setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 3,20922 aktiva lancer

    Quick Ratio
    = (Aktiva Lancar – Persediaan) / Kewajian Lancar
    = (Rp 676.386.708 – Rp 200.884.000) / Rp 210.763.300
    = Rp 475.502.708 / Rp 210.763.300
    = 2,2560 atau 225,60%

    Artinya kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar dengan aktiva perusahaan adalah setiap Rp 1 hutang lancer dijamin dengan Rp 2,2560 aktiva lancar yang likuid atau dalam bentuk uang bukan persediaan barang dagangan.

  14. Laporan Neraca
    PT Jayakarta
    Per 31 Desember 2015
    AKTIVA
    ​AKTIVA LANCAR
    ​Kas​​​​​Rp30.000.000
    ​Piutang ​​​​Rp70.000.000
    ​Persediaan ​​​​Rp20.000.000
    TOTAL AKTIVA LANCAR ​​​​​Rp120.000.000
    ​AKTIVA TETAP
    ​Aktiva Tetap ​​​​Rp500.000
    ​Akumulasi Penyusutan Harta Tetap ​(Rp150.000)
    TOTAL AKTIVA TETAP ​​​​​Rp350.000.000
    TOTAL AKTIVA ​​​​​​Rp470.000.000

    KEWAJIBAN & EKUITAS
    ​KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
    ​Utang Usaha​​​​Rp15.000.000
    ​Utang Sewa​​​​Rp20.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN LANCAR​​​​Rp35.000.000
    ​KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
    ​Utang Bank​​​​Rp50.000.000
    ​Utang Obligasi​​​Rp45.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN JANGKA PANJANG​​Rp95.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN​​​​​Rp130.000.000

    EKUITAS
    ​Modal disetor​​​​Rp200.000.000
    ​Laba Ditahan​​​​Rp140.000.000
    TOTAL EKUITAS​​​​​​Rp340.000.000
    TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS ​​​Rp470.000.000

    Laporan Laba Rugi
    PT Jayakarya
    Per 31 Desember 2015

    PENDAPATAN
    ​Penjualan​​​Rp800.000.000
    ​Retur Penjualan​​Rp50.000.000
    ​Diskon​​​​Rp40.000.000
    ​Pendapatan Sewa​​Rp30.000.000
    ​​TOTAL PENDAPATAN​​Rp920.000.000
    Harga Pokok Penjualan (COGS)​Rp100.000.000
    Laba Kotor ​​​​Rp820.000.000

    BIAYA
    ​Biaya Gaji​​​Rp200.000.000
    ​Biaya Sewa​​​Rp70.000.000
    ​Biaya Penyusutan​​Rp30.000.000
    ​Biaya Kurir​​​Rp50.000.000
    ​Biaya Lain-Lain​​Rp150.000.000
    ​​TOTAL BIAYA ​​​Rp500.000.000

    PENDAPATAN & BEBAN DILUAR USAHA
    ​Pendapatan Bunga​​Rp300.000.000
    ​Beban Bunga​​​Rp40.000.000
    TOTAL BEBAN DILUAR USAHA​​​Rp340.000.000
    LABA BERSIH​​​​​Rp580.000.000
    ​Beban Pajak​​​Rp29.000.000
    LABA BERSIH SETELAH PAJAK ​​​Rp551.000.000

    1. Menghitung dan membaca hasil analisis rasio profitabilitas
    “Rasio Profitabilitas” mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan cara membandingkan antara laba (profit) dengan elemen-lemen lain laporan keuangan seperti Penjualan, HPP, Aset, Ekuitas, Modal Saham, dsb
    a. Gross Profit Margin (GPM)
    GPM​ = Penjualan bersih – HPP ÷ Penjualan Bersih
    ​ = 920.000-100.000÷920.000
    ​ = 0,89 (0,89 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan PT. Jayakarya, 0,11 nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 0,89 nya digunakan untuk menutup biaya umum. Dengan kata lain setiap Rp 1,- penjualan PT. Jayakarya 11% nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 89% nya digunakan untuk menutup biaya umum)
    b. Net Profit Margin
    = Laba bersih ÷ penjualan bersih
    = 551.000.000 ÷ 920.000.000
    = 0,59 (0,59 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan PT. Jayakarya 0,41 nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 0,59 nya merupakan laba bersih PT. Jayakarya dengan kata lain setiap Rp. 1,- penjualan PT. Jayakarya 41% nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 59% nya merupakan laba bersih)
    c. Return On Equity
    = Laba bersih ÷ modal
    = 551.000.000 ÷ 340.000.000
    = 1,62 (,62 itu artinya untuk setiap Rp. 1,- investasi yang ditanamkan di PT Jayakarya investor mendapatkan tingkat pengembalian sebesar 1,62 )

    2. Menghitung dan membaca hasil analisis rasio likuiditas
    a. Current Rasio
    = aktiva lancar ÷ kewajiban lancar
    = 120.000.000 ÷ 35.000.000
    = 3,4 (3,4 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar PT. Jayakarya dijamin oleh 3,4 aktiva lancar, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 3,4 : 1)
    b. Quick Ratio
    = Aktiva lancar – persediaan ÷ kewajiban lancar
    = 100.000.000 – 20.000.000 ÷ 35.000.000
    = 2,2 (2,2 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar PT Jayakarya dijamin oleh 2,2 aktiva lancar tanpa persediaan, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 2,2 : 1)

  15. Cara menghitung dan membaca hasil analisis rasio profitabilitas dan likuiditas
    1. Rasio Likuiditas
    a. Quick Ratio (Ratio Cepat atau Acid Test Ratio)
    Quick Ratio= (Aktiva Lancar-Persediaan)/(Hutang Lancar) x 100%
    Contoh :
    Quick Ratio= (60.693.675 -0)/39.500.000 x 100%
    = 1,53654873 x 100%
    =1,53654873%
    =0,0153654873
    artinya Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar dengan aktiva perusahaan adalah setiap Rp. 1,53654873 hutang lancar dijamin dengan Rp 0,0153654873 aktiva lancar yang likuid atau dalam bentuk uang bukan persediaan barang dagangan.
    b. Rasio Lancar
    Rasio lancar = (Aktiva Lancar)/(Hutang Lancar) x 100%
    = 60.693.675/39.500.000 x 100%
    = 1,53654873 x 100%
    = 1,53654873%
    = 0,0153654873
    Sumber = https://zahiraccounting.com/id/blog/cara-cepat-menyusun-laporan-keuangan-perusahaan-jasa/

    2. Rasio Profitabilitas
    a. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
    Gross Profit margin= (Laba Kotor )/(Penjualan )
    = (16.173.000 )/(102.000.000 )
    = 0,159
    = 15,9%
    artinya bahwa setiap Rp1,- (satu rupiah) penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp0,159. Semakin tinggi profitabilitasnya berarti semakin baik. Tetapi pada penghitungan Gross Profit Margin, sangat dipengaruhi oleh HPP, sebab semakin besar HPP, maka akan semakin kecil Gross Profit Margin yang dihasilkan.

    b. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)
    Margin Laba Bersih= (Laba Setelah Pajak )/(Penjualan )
    = (1.388.524,95 )/102.000.000
    = 0,0136
    = 1,36%
    c. Return of Asset ( RoA )
    Return of Aset (RoA)= (Laba Setelah Pajak )/(Total Aset )
    Contoh :
    *misal total total aset Rp. 2.500.000
    = (1.388.524,95 )/2.500.000
    = 0,5554
    = 55,54%
    artinya menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan, berarti dengan Rp1000,- aktiva akan menghasilkan laba bersih setelah pajak Rp.555,4 atau dengan Rp1,- menghasilkan laba bersih (EAT) Rp0,5554 ,-
    Sumber : https://www.triharyono.com/2016/07/laporan-laba-rugi.html

  16. Sumber : http://www.akuntansilengkap.com
    TOKO REJEKI
    Laporan Laba Rugi
    Per 31 Desember 2017

    Penjualan Rp 14.590.000
    Retur Penjualan (Rp 45.000)
    Potongan Penjualan (Rp 270.400)

    Penjualan Bersih Rp 14.274.600
    Harga pokok penjualan (Rp 9.739.000)

    Laba Bruto Rp4.535.600
    Beban Operasional :
    Beban Telepon (Rp150.000)
    Beban Sewa Kendaraan (Rp100.000)
    Beban Toko Lain-lain (Rp100.000)
    Beban Depresiasi Gedung (Rp375.000)
    Beban Depresiasi Peralatan (Rp125.000)
    Beban Perlengkapan (Rp1.500.000)
    Beban Gaji (Rp1.100.000)

    Laba Sebelum Pajak Rp 1.085.000
    Pajak Penghasilan (Rp 85.000)

    Laba Setelah Pajak Rp1.000.000

    TOKO REJEKI
    Laporan Posisi Keuangan
    Per 31 Desember 2017

    AKTIVA
    AKTIVA LANCAR
    Kas Rp25.099.600
    Piutang Dagang 15.170.000
    Persediaan Barang Dagangan 2.911.000
    Perlengkapan Rp760.000
    AKTIVA TETAP
    Tanah Rp40.000.000
    Gedung Rp60.000.000
    Akumulasi Penyusutan Gedung Rp3.375.000
    Peralatan Rp18.000.000
    Akumulasi Penyusutan Perlatan Rp2.125.000
    JUMLAH AKTIVA Rp156.440.600

    KEWAJIBAN
    KEWAJIBAN LANCAR
    Utang Usaha Rp5.770.000
    KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
    Utang Bank Rp49.660.000

    EKUITAS
    Modal Saham Rp101.010.600
    JUMLAH KEWAJIBAN + EKUITAS Rp 156.440.600

    1. RASIO PROFIBILITAS
    “Rasio Profitabilitas” mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan cara membandingkan antara laba (profit) dengan elemen-lemen lain laporan keuangan seperti Penjualan, HPP, Aset, Ekuitas, Modal Saham, dsb,
    a. Gross Profit Margin (GPM)
    Adalah rasio yang membandingkan antara laba kotor (gross profit) dengan penjualan
    = (penjualan bersih – hpp) ÷ penjualan bersih
    = (14.274.600 – 9.739.000) ÷ 14.274.600 = 0,31

    Kesimpulan : 0,31 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan Toko Rejeki, 0,69 nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 0,31 nya digunakan untuk menutup biaya umum. Dengan kata lain setiap Rp. 1,- penjualan Toko Rejeki 69% nya digunakan untuk menutup hpp, sementara 31% nya digunakan untuk menutup biaya umum.

    b. Net Profit Margin
    Adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Net Profit Margin mengukur persentase dari profit yang diperoleh perusahaan dari tiap penjualan sebelum dikurangi dengan biaya bunga dan pajak.
    = Laba bersih ÷ penjualan bersih
    = 1.000.000 ÷ 14.274.600 = 0,07

    Kesimpulan : 0,07 itu artinya setiap Rp. 1,- penjualan Toko Rejeki 0,93 nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 0,07 nya merupakan laba bersih PT. ZHR dengan kata lain setiap Rp. 1,- penjualan Toko Rejeki 93% nya digunakan untuk menutup hpp, biaya umum, pajak, sementara untuk 7% nya merupakan laba bersih

    c. Return On Equity
    Adalah rasio untuk megukur tingkat pengembalian yang dihasilkan oleh perusahaan untuk setiap satuan mata uang yang menjadi modal perusahaan. Dalam pengertian ini, seberapa besar perusahaan memberikan imbal hasil tiap tahunnya per satu mata uang yang diinvestasikan investor ke perusahaan tersebut

    = Laba bersih ÷ modal
    = 1.085.600 ÷ 101.010.600 = 0,01

    Kesimpulan : 0,01 itu artinya untuk setiap Rp. 1,- investasi yang ditanamkan di Toko Rejeki investor mendapatkan tingkat pengembalian sebesar 0,01.
    d. Return On Assets
    Adalah rasio untuk megukur tingkat pengembalian yang dihasilkan oleh perusahaan untuk setiap satuan mata uang yang menjadi aset perusahaan.
    = Laba bersih ÷ total aset
    = 1.085.600 ÷ 156.440.600 = 0,006

    Kesimpulan : 0,006 itu artinya untuk setiap Rp. 1,- asset di Toko Rejeki mendapatkan tingkat pengembalian sebesar 0,006.
    2. RASIO LIKUIDITAS
    “Rasio likuiditas” adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.
    a. Current Rasio
    Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya (kurang dari 1 tahunbuku) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki.
    = aktiva lancar ÷ kewajiban lancar
    = 43.256.600 : 5.770.000 = 7,4
    Kesimpulan : 7,4 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar Toko Rejeki dijamin oleh 7,4 aktiva lancar, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 7,4 : 1
    b. Quick Ratio
    Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid.
    = (aktiva lancar – persediaan) ÷ kewajiban lancar
    = (43.256.600 – 2.911.000) ÷ 5.770.000 = 6,9

    Kesimpulan : 6,9 itu artinya setiap Rp. 1,- hutang lancar Toko Rejeki dijamin oleh 6,9 aktiva lancar tanpa persediaan, jadi perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar 6,9 : 1

  17. UMKM INDAH ALAMI
    Laporan laba/Rugi
    Untuk perioda yang berakhir pada 31 Desember 2014 (dalam rupiah)

    Penjualan Rp250.000.000
    (Retur Penjualan) Rp-5.000.000
    (Potongan Penjualan) Rp-1.000.000
    Penjualan Bersih Rp244.000.000
    (HPP) Rp-145.000.000
    Laba Kotor
    Dikurangi: 99000000
    Biaya gaji Rp20.000.000
    Biaya Sewa Rp12.000.000
    Biaya Listrik, Air, Telepon Rp2.000.000
    Biaya Pemasaran Rp1.500.000
    Biaya Angkut Penjualan Rp3.500.000
    Biaya Perlengkapan Rp1.000.000
    Biaya Penyusutan Kendaraan Rp1.500.000
    Biaya Penyusutan Peralatan Rp500.000
    Total Biaya -42000000
    Laba(Rugi) bersih sebelum pajak 57000000
    Pajak (1%dari omzet/penjualan) 2500000
    Laba bersih setelah pajak 54500000

    UMKM INDAH ALAMI
    Neraca
    per 31 Desember 2014
    Aktiva Lancar
    Kas Rp100.000.000
    Persediaan Barang Dagang Rp120.000.000
    perlengkapan Rp30.000.000
    Sewa Dibayar Dimuka Rp10.000.000
    Total Aset lancar Rp260.000.000

    Aset Tetap
    Kendaraan Rp80.000.000
    Akm. Penyusutan Kendaraan Rp-6.000.000
    Peralatan Rp40.000.000
    Akm. Penyusutan Peralatan Rp-4.000.000
    Total Aset Tetap Rp110.000.000
    Total Aset Rp370.000.000

    Utang Lancar
    Utang Dagang Rp60.000.000
    Utang Gaji Rp30.000.000
    Utang pajak Rp10.000.000
    Utang Jangka
    Utang Bank Rp50.000.000
    Utang Hipotek Rp40.000.000
    Ekuitas
    Modal INDAH ALAMI Rp180.000.000
    Total Utang +Ekuitas Rp370.000.000
    RASIO PROFITABILITAS
    Gross Profit Margin (GPM): digunakan untuk pengendalian harga pokok produksi atau biaya. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan melaksanakan kegiatan produksi secara efisien. Raio ini merupakan persentase laba kotor dibadingkan dengan penjualan berih. Rumus yang digunakan untuk menghitng GPM adalah sebagai berikut:
    Gross Profit Margin (GPM) = (PenjualanBersih – HPP)/Penjalan Bersih
    Semakin tinggi GPM menjunjukkan bahwa harga pokok lebih renah dibandingkan dengan penjualan sehingga dapat dikatakan kegiatan produksi semakin efisien.
    Berdasarkan contoh laporan diatas Margin labakotor yaitu sebesar: (Rp 244.000.000-Rp 145.000.000)/Rp 24.000.000= 0,41 atau 41%. Angka 41% artinya dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 59% digunakan hanya untuk menutup HPP sehingga yg tersisa hanya srbesar 41% yg digunakan untuk menutup biaya operasional dan biaya lain. Apabila biaya tersebut lebih besar dari 41% maka perusahaan tidak mendapatkan laba sehingga diperlukan analisis terhadap biaya- biaya tersebut.

    Net Profit Margin (NPM):: rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memberi “sisa” laba bersih bagi pemilik atau investor. Dihitung dengan rumus
    NPM= Laba Bersih Setelah Pajak/Penjualan Bersih
    Semakin tinggi NPM menunjukkan bahwa kegiatan operasional perusahaan dalam menghasilkan laba semakin baik. Berdasarkan contoh diatas margin laba bersih yaitu sebesar: Rp 54.500.000/Rp244.000.000 = Rp 0,22 atau 22%.
    Artinya total penjualan bersih yang didapatkan, sebesari 78% digunakan untuk menutup semua biaya seperti HPP, Biaya Operasional dan termasuk pajak yang dibayarkan. Sisa sebesar 22% merupakan laba bersih yang didapatkan perusahaan.

    Return on Assets (ROA)
    ROA= Laba Bersih/Total Aset
    Berdasarkan contoh diatas ROA sebesar: Rp 54.000.000/Rp370.000.000= 0,15 atau 15%. Angka 15% berarti bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sebesar 15% dari total aset yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.
    Retrun on Equity(ROE): Laba Bersih/Ekuitas
    Berdasrkan contoh diatas ROE: Rp 54.000.000/Rp180.000.000= 0,30 atau 30%.
    Angka 30% berarti bahwa perusahaan mampu memberikan imbal hasil usaha untuk setiap Rp 1 yang diinvestikan di perusahaan, pemilik mendapatlan tambahan nilai ekuitas Rp0,30.

    RASIO LIKUIDITAS
    Current Ratio (CR): Aset Lancar/Utang Lancar
    Secara umum CR ideal berkisari 2-3 atau 200%-300%. semakin ideal maka menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar semua utang.
    Berdasarkan contoh diatas CR yaitu: Rp260.000.000/Rp100.000.000 = 2,6 atau 260%
    Berarti bahwa setiap Rp1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp2,60 aset lancar. Hasil penjualan semua aset lancar dapat menutup sampai 260% dari total utang lancarnya. Dapat dikatakan bahwa perusahaan dalam kondisi baik.
    Quick Ration (QR): (Aset lancar – Persediaan – Persekot Biaya) / Utang Lancar
    Secara umum QR ideal berkisar 1,5-2 atau 150%-200%. Berdasarkan contoh diatas QR Sebesar: (Rp260.000.000-Rp120.000.000-Rp10.000.000)/Rp100.000.000 = 1,30 atau 130%.
    Angka 1,30 berarti bahwa setaip Rp1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp1,30 aset lancar yang telah dikurangi persediaan dan persekot biaya.
    Sumber: Buku berjudul Akuntansi Tanpa Stress, karangan Endra Murti Sagoro

  18. Laporan Laba Rugi
    Toko Rejeki
    Per 31 Desember 2005

    Penjualan Rp 14.590.000
    Retur penjualan
    dan pengurangan harga (Rp 45.000)
    Potongan Penjualan (Rp 270.400)
    Penjualan Bersih Rp 14.274.600
    Harg Pokok Penjualan (Rp 9.739.000)
    Laba Bruto Rp 4.535.000
    Beban Operasional :
    1. Beban Pemasaran
    Beban telepon (Rp 150.000)
    Beban sewa kendaraan ( Rp 100.000)
    Beban toko lain-lain (Rp 100.000)
    Beban depresiasi gedung (Rp 225.000)
    Beban depresiasi peralatan (Rp 75.000)
    Beban perlengkapan toko (Rp 1.125.000)
    Beban toko (Rp 800.000)
    Jumlah Beban Pemasaran (2.575.000)

    2. Beban Administrasi Umum
    Beban depresiasi gedung (Rp 150.000)
    Beban depresiasi peralatan (Rp 50.000)
    Beban perlengkapan toko (Rp 375.000)
    Beban gaji (Rp 300.000)
    Jumlah Beban Administarasi Umum (Rp 875.000)
    Laba Usaha Rp 1.085.600
    Beban bunga (Rp 75.000)
    Laba bersih sebelum pajak Rp 1.010.600
    Laba bersih setelah pajak Rp 1.000.494

    Neraca
    Toko Rejeki
    Per 31 Desember 2005

    Aset Lancar
    Kas Rp 25.099.600
    Piutang Rp 15.170.000
    Persediaan Rp 2.911.000
    barang dagangan
    Perlengkapan Rp 760.000

    Aset Tidak Lancar
    Tanah Rp 40.000.000
    Gedung Rp 60.000.000
    Akm.Dep.Gedung (Rp 3.375.000)
    Peralatan Rp 18.000.000
    Akm.Dep.Peralatan (Rp 2.125.000)

    Total Aset Rp 156.440.600

    Utang Lancar
    Utang Usaha Rp 5.770.000
    Utang bunga Rp 75.000

    Utang Jangka Panjang
    Utang bank Rp 49.585.000

    Ekuitas
    Modal Andika Rp 101.010.600

    Jumlah Liabilitas dan Ekuitas Rp 156.440.600

    Sumber : https://www.akuntansilengkap.com/akuntansi/contoh-laporan-keuangan-perusahaan-dagang-lengkap-beserta-transaksinya/

    Rasio Profitabilitas

    1. Gross Profit Margin = (Penjualan Bersih – HPP)/ Penjualan Bersih
    = (14.274.600 – 9.739.000) 14.274.600
    = 0,32
    = 32%
    32% digunakan untuk menutup biaya operasional dan biaya lainnya, sisanya sebanyak 68% digunakan untuk menutup harga pokok penjualan.

    2. Net Profit Margin = Laba bersih setelah pajak / Penjualan Bersih
    = 1.000.494 / 14.274.600
    = 0,07
    = 7%
    7% merupakan laba bersih yang didapatkan toko, sisanya sebanyak 93% digunakan untuk menutup semua biaya HPP, biaya operasional dan pajak.

    3. ROA = Laba Bersih / Total Aset
    = 1.000.494 / 156.440.600
    = 0,006 = 0,6%
    Dari seluruh total aset, total laba yang dihasilkan hanya 0,6 %

    4. ROE = Laba Bersih / Ekuitas
    = 1.000.494 / 101.010.600
    = 0,009 = 0,9%
    0,9% berarti bahwa toko mampu memberikan imbal hasil usaha untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan, pemilik mendapatkan tambahan nilai ekuitas Rp 0,009.

    Rasio Likuiditas

    1. CR = Aset Lancar/ Utang Lancar
    = 43.940.000 / 5.845.000
    = 7,52
    Angka 7,52 berarti bahwa setiap Rp 1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp 7,52 aset lancar yang telah dikurangi persediaan. Hal ini menunjukkan UMKM ini mampu melunasi utang jangka pendeknya.

    2. QR = (Aset Lancar- Persediaan-Persekot biaya)/ Utang Lancar
    = 41.029.600 / 5.845.000
    = 7,02
    Angka 7,02 berarti bahwa setiap Rp 1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp 7,02 aset lancar yang sudah dikurangi persediaan dan sewa dibayar dimuka.

  19. Sumber Gambar:
    http://www.ssbelajar.net/2012/09/laporan-keuangan-perusahaan-dagang.html
    PD ASIH JAYA, SEMARANG
    Laporan laba/rugi
    Untuk periode 31 desember 2005

    Penjulaan bersih Rp 93.500.000
    Harga pokok penjualan (Rp 64.000.000)
    Laba kotor Rp 29.500.000

    Beban usaha :
    Beban penjualan Rp 9.000.000
    Beban administrasi dan umum Rp 2.450.000
    (Rp 11.450.000)
    Laba usaha Rp 18.050.000

    Pendapatan diluar usaha:
    Pendapatan bunga Rp 600.000
    Laba bersih sebelum pajak Rp 18.650.000
    Pajak penghasilan (RP 4.500.000)
    Laba bersih setelah pajak Rp 14.150.000

    PD ASIH JAYA, SEMARANG
    NERACA
    Untuk periode 31 desember 2005
    AKTIVA
    AKTIVA LANCAR
    Kas Rp 8.500.000
    Piutang dagang Rp 11.000.000
    Persediaan barang dagang Rp 18.000.000
    Perlengkapan toko Rp 500.000
    Perlengkapan kantor Rp 100.000
    Beban dibayar dimuka Rp 500.000
    Sewa dibayar dimuka Rp 100.000
    Jumlah aktiva lancar Rp 38.700.000
    AKTIVA TETAP
    Peralatan toko Rp 15.000.000
    Akm. Pen. Peralatan toko (Rp 5.500.000)
    Rp 9.500.000
    Peralatan kantor Rp 4.500.000
    Akm. Pen. Peralatan kantor (Rp 1.450.000)
    Rp 3.050.000
    JUMLAH AKTIVA Rp 51.250.000

    PASIVA
    UTANG LANCAR
    Utang dagang Rp 12.000.000
    Utang listrik dan air Rp 100.000
    Utang pajak Rp 3.000.000
    Jumlah utang lancar Rp 15.100.000

    MODAL
    Modal Tn. Asih Suryo Rp 36.150.000

    JUMLAH PASIVA Rp 51.250.000

    1. Rasio profitabilitas
    Rasio Profitabilitas yang akan dipakai adalah:
    a. Gross Profit Margin
    Gross profit margin = Laba Kotor/Penjualan bersih x 100 %
    = Rp 29.500.000 / Rp 93.500.000
    = 0,316 atau 31,6 %
    Artinya, setiap Rp100 penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp31,6. Semakin tinggi profitabilitasnya berarti semakin baik. Tetapi pada penghitungan gross profit margin , sangat dipengaruhi oleh HPP, sebab semakin besar HPP, maka akan semakin kecil gross profit margin yang dihasilkan.

    b. Net Profit Margin
    Net profit margin = Laba setelah pajak / Penjualan bersih x 100%
    = Rp 14.150.000 / Rp 93.500.000 x 100%
    = 15,13 %
    Artinya, setiap Rp 100 penjualan akan menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp 15,13.

    c. Return on Assets (ROA)
    Return on assets = Laba bersih / Total Aset
    = Rp 14.150.000 / Rp Rp 51.250.000 x 100%
    =0,2761 atau 27,61%
    Artinya, tingkat pengembalian asset pada PD ASIH JAYA, SEMARANG sebesar 27,61% dan angka ini baik karena batas minimal ROA suatu perusahaan adalah 2%

    d. Return on Equity (ROE)
    Return on equity (ROE) = Laba bersih / Total ekuitas
    = Rp 14.150.000 / Rp 36.150.000
    =0,3914 atau 39,14%
    Artinya, setiap Rp 100 modal sendiri yang diinvestasikan memberikan keuntungan sebesar Rp 39,14%

    2. Rasio likuiditas
    Rasio likuiditas yang akan dipakai adalah:
    a. Current ratio
    Current ratio =asset lancar/utang lancar
    = Rp 38.700.000 / Rp 15.100.000
    = 2,5629 atau 256,29%
    Artinya, setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 2,5629 aktiva lancar

    b. Quick ratio
    Quick ratio = (asset lancar – persediaan – persekot biaya) / utang lancar
    = ( 38.700.000 – 18.000.000 – 600.000) / 15.100.000
    = 20.100.000 / 15.100.000
    = 1,3311 atau 133,11%
    Artinya, kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar dengan aktiva perusahaan adalah setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 1,3311 aktiva lancar yang likuid atau dalam bentuk uang bukan persediaan barang dagangan.

  20. PD Asih Jaya, Semarang
    Laporan Laba/Rugi
    31 Desember 2005
    Penjualan Rp 95.000.000
    Retur Penjualan Rp 1.500.000
    Potongan Penjualan Rp –
    Rp 1.500.000
    Penjualan Bersih Rp 93.500.000
    Harga Pokok Penjualan Rp (64.000.000)
    Laba Kotor Rp 29.500.000
    Beban gaji penjualan Rp 2.500.000
    Beban iklan Rp 1.500.000
    Beban perlengkapan toko Rp 1.000.000
    Beban angkut penjualan Rp 500.000
    Beban sewa toko Rp 500.000
    Beban Peny. Peralatan toko Rp 3.000.000
    Beban gaji kantor Rp 1.000.000
    beban perlengkapan kantor Rp 300.000
    Beban lain-lain Rp 700.000
    Beban Peny. Peralatan kantor Rp 450.000
    Total Beban Usaha Rp (11.450.000)
    Laba Usaha Rp 18.050.000
    Pendapatan dan beban diluar usaha
    Pendapatan bunga Rp 600.000
    Rp 600.000
    Laba bersih sebelum pajak Rp 18.650.000
    Pajak Penghasilan Rp (4.500.000)
    Laba bersih setelah pajak Rp 14.150.000

    PD Asih Jaya Semarang
    Neraca
    31 Desember 205
    Aktiva Lancar Utang Lancar
    Kas Rp 8.500.000 Utang dagang Rp 12.000.000
    Piutang dagang Rp 11.000.000 Utang listrik dan air Rp 100.000
    Persediaan barang dagang Rp 18.000.000 Utang pajak Rp 3.000.000
    Perlengkapan toko Rp 500.000 Jumlah utang lancar Rp 15.100.000
    Perlengkapan Kantor Rp 100.000 Ekuitas
    Iklan dibayar dimuka Rp 500.000 Modal Tn.Asih Suryo Rp 36.150.000
    Sewa dibayar dimuka Rp 100.000
    jumlah aktiva lancar Rp 38.700.000
    Aktiva Tetap
    Peralatan toko Rp 15.000.000
    Akm. Peny. Peralatan toko Rp (5.500.000)
    Peralatan kantor Rp 4.500.000
    Akm.peny. Peralatan kantor Rp (1.450.000)
    Rp 12.550.000
    Jumlah aktiva Rp 51.250.000 Jumlah Utang dan Ekuita Rp 51.250.000

    sumber : http://www.ssbelajar.net/2012/09/laporan-keuangan-perusahaan-dagang.html

    1. Rasio Profitabilitas
    a. Gross Profit Margin (GPM)
    = (Penjualan bersih – HPP)/ Penjualan bersih
    = (Rp 93.500.000 – Rp 64.000.000)/ Rp 93.500.000
    = 0,32 atau 32%
    Angka 32 % berarti bahwa dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 68% digunakan hanya untuk menutup Harga Pokok Penjualan sehingga yang tersisa hanya sebesar 32% untuk menutupi biaya operasional dan biaya lain. Jika biaya-biaya tersebut tidak meliebihi 32% maka perusahaan masih mendapatkan laba. Namun jika biaya-biaya tersebut lebih besar maka perusahaan tidak mendapatkan laba , sehingga perlu adanya penelusuran adanya ketidakefisienan dalam hal biaya khususnya yang berhubungan dengan Harga Pokok Penjualan.

    b. Net Profit Margin (NPM)
    = Laba Bersih Setelah Pajak/ Penjualan Bersih
    = Rp 14.150.000/ Rp 93.500.000
    = 0,15 atau 15%
    Angka 15% berarti bahwa dari total penjualan bersih yang didapatkan, sebesar 85% digunakan untuk menutup semua biaya seperti HPP, Biaya operasional termasuk juga pajak yang dibayarkan. Sisa sebesar 15% merupakan laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan.

    c. Return On Assets (ROA)
    = Laba Bersih/ Total Aset
    = Rp 14.150.000/ Rp 51.250.000
    = 0,28 atau 28%
    Angka 28% berarti bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sebesar 28% dari total aset yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.

    d. Return On Equity (ROE)
    = Laba Bersih/ Ekuitas
    = Rp 4.150.000/ Rp 36.150.000
    = 0,11 atau 11%
    Angka 11% berarti bahwa perusahaan mampu memberikan imbal hasil usaha untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan diperusahaan, pemilik mendapatkan nilai ekuitas Rp 0,11. Besarnya ROE berdampak pada investor, biasanya sebelum mengambil keputusan investasi mereka akan membandingkan rata-rata ROE pada perusahaan lain yang sejenis.

    2. Rasio likuiditas
    a. Current ratio (CR)
    = Aset lancar/ Utang Lancar
    = Rp 38.700.000/ Rp 15.100.000
    = 2,6 atau 260%
    Angka 2,6 berarti bahwa setiap Rp 1 utang lancar dijamin Rp 2,6 aset lancar. Artinya apabila perusahaan mempunyai utang lancar sebesar Rp 10.000 perusahaan memiliki jaminan atas utang tersebut sebesar Rp 26.000. hal ini menunjukkan perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi semua utang jangka pendeknya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perusahaan dalam kondisi sehat.

    b. Quick Ratio (QR)
    = (Aset Lancar – Persediaan – Persekot Biaya)/ Utang lancar
    = (Rp 38.700.000 – Rp 18.000.000 – Rp 600.000)/ Rp 15.100.000
    = 1,3 atau 130%
    Angka 1,3 berarti bahwa setiap Rp 1 utang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,3 aset lancar yang telah dikurangi persediaan dan persekot biaya. Jika perusahaan mempunyai utang sebesar Rp 10.000 perusahaan memiliki jaminan sebesar Rp 13.000. perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi semua utang jangka pendeknya. Hasil penjualan aset lancar kecuali persediaan dan pesekot biaya dapat menutup 130% dari total utang lancarnya. Dalam hal ini perusahaan dapat dikatakan dalam kondisi sehat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *