Burjo, Warung Andalan Mahasiswa

Oleh: Eka Nur Aini

Saat mendengar kata Burjo pasti yang terlintas adalah Bubur Kacang Ijo. Iya kan? Namun lain hal jika mahasiswa mendengar kata burjo. Ya! Burjo atau biasa dikenal Warmindo adalah tempat makan mirip warteg yang menjamur disekitaran kampus dikota Yogyakarta dan sekitarnya. Bedanya dengan warteg, burjo identik dengan pemiliknya yang dari Orang Sunda, sehingga pembeli biasa memanggilnya “teteh” untuk penjual perempuan dan “Aa” jika penjualnya laki-laki.

Burjo dapat dikatakan sebagai warung andalan mahasiswa, terutama mahasiswa kost. Hal ini karena burjo sendiri menawarkan berbagai menu masakan rumahan dan tentunya bersahabat dengan kantong para mahasiswa. Apalagi di akhir bulan saat kiriman tak kunjung datang, burjo dapat diibaratkan sebagai penyelamat mahasiswa karena mahasiswa bisa membeli makanan dengan harga yang murah. Jadi jangan khawatir kalo diakhir bulan, bokek, dan pengen makan, karena burjo bisa banget diandelin disaat-saat seperti itu.

“Warung burjo Berkah” merupakan salah satu burjo yang terletak di Jl Amatra I dan berjarak sekitar 40 meter dari Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Burjo ini berdiri ditahun 2016 dengan pemiliknya yang bernama Teteh Anik. Jam buka burjo dari pukul 06.00 sampai pukul 22.00. Menu makanan yang dijual juga beragam, mulai dari lauk-pauk seperti sarden, ayam goreng, tahu, tempe, telur, dan masih banyak lagi. Selain lauk pauk, terdapat sayur-mayur juga seperti cah kangkung, sayur soup, sayur bayam, dsb. Burjo Teteh Anik juga melayani masakan magelangan dan mie rebus jikalau pembeli menginginkannya. Untuk urusan harga, burjo menyesuaikan dengan kondisi. Harga yang ditawarkan berkisar Rp1000 untuk gorengan hingga Rp8000 untuk nasi ayam. Murah kan? Jadi pas banget buat kalian yang suka ngirit.

Dalam menjalankan usahanya, pelaku UMKM pastilah menemukan kendala, begitupun dengan Burjo Teteh Anik. Seperti dalam hal produksi, ketika makanan yang telah siap untuk dijual melebihi pembeli yang membeli makanan tersebut, mengakibatkan makanan tersebut tersisa dan Teteh Anik mau tidak mau harus membuangnya. Selain itu, Teteh Anik juga mengalami kesulitan dalam menentukan harga ketika harga bahan baku naik. Solusi untuk masalah tersebut ialah Teteh Anik sebaiknya sering berganti menu tiap harinya, supaya calon pembeli tidak bosan untuk membeli makanan yang tersedia karena menunya berbeda dengan hari sebelumnya. Dengan begitu, calon pembeli akan lebih tertarik dan makanan yang telah disajikan lebih cepat habis. Dan solusi ketika harga bahan baku naik, pemilik bisa mengurangi porsi makan tanpa mengurangi cita rasa atau kualitas dari makanan tersebut.

Selain kendala dalam hal produksi, Teteh Anik juga memiliki kendala dalam hal pemasaran, salah satunya ialah burjonya belum bekerja sama dengan grabfood ataupun gofood untuk memudahkan pembeli yang membeli secara online. Teteh Anik juga belum menggunakan sosial media untuk mempromosikan usahanya, dan hanya menggunakan media dari mulut ke mulut atau dari rekomendasi pembelinya yang sudah pernah datang. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah Teteh Anik sebisa mungkin mempromosikan usaha kulinernya menggunakan sosial media, seperti instagram, facebook, supaya jangkauan pemasarannya lebih luas dan usaha kulinernya lebih dikenal banyak orang. Teteh Anik juga sesegera mungkin bekerja sama dengan grabfood ataupun gofood karena dengan begitu akan memudahkan pembeli yang ingin membeli secara online.

Tidak hanya itu, Teteh Anik juga memiliki kendala dibidang keuangan, salah satunya ialah ketika mahasiswa libur semester, pendapatan yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan hari biasanya, hal tersebut dikarenakan mayoritas pelanggannya ialah mahasiswa kost, dan ketika liburan, mereka pulang ke kampung halamannya. Selain itu, pemilik masih menggunakan pencatatan akuntansi yang sederhana, yang hanya mencatat pemasukan dan pengeluaran dihari itu. Solusi untuk mengatasi hal tersebut ialah pemilik harus tetap konsisten meskipun pendapatan yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan hari biasanya, dan juga harus mengurangi jumlah makanan yang akan dijual disaat musim liburan para mahasiswa, tujuannya untuk mengurangi pengeluaran yang sia-sia. Pemilik juga sebisa mungkin menggunakan catatan akuntansi yang lebih rinci, dengan begitu dapat mengetahui secara pasti laba dan rugi usahanya dan juga dapat terus memantau perkembangan usahanya.

Burjo Teteh Anik merupakan salah satu contoh dari sekian banyak UMKM di Indonesia. Dan UMKM sangatlah penting bagi perekonomian Indonesia, karena disaat kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini, perusahaan besar banyak yang mengalami resesi, dan UMKM lah yang dapat membantu untuk mempertahankan perekonomian Indonesia. Selain itu, UMKM juga dapat mengurangi tingkat kemiskinan. Oleh karena itulah UMKM terus digalakkan dan terus didorong oleh pemerintah.

282 comments

  1. Artikel yang sangat membantu nih, apalagi buat adek2 maba yang baru mengenal dunia kampus khususnya di uny. Sukses selalu umkm di indonesia

    Hidup umkm indonesia 👍

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *