APAKAH PRIVE HARUS KAS?

Prive adalah pengambilan atau pemanfaatan sesuatu dari perusahaan untuk kepentingan pribadi pemilik. Pemilik perusahaan, khususnya perusahaan yang berbentuk perusahaan perseorangan, dan dimungkinkan pula perusahaan persekutuan, dapat mengambil sesuatu dari perusahaan untuk kepentingan pribadi. Sesuai dengan prinsip kesatuan usaha, pengambilan pribadi ini harus dicatat oleh perusahaan. Transaksi ini akan berpengaruh pada struktur modal pemilik di perusahaan.

Prive adalah hak pemilik perusahaan yang disesuaikan dengan kebijakan perusahaan. Selama ini, transaksi yang berkaitan dengan prive dicontohkan dengan pengambilan uang tunai atau kas perusahaan oleh pemilik untuk kepentingan pribadi. Contoh: “Pada tanggal 17 Juni 2020, pemilik perusahaan mengambil uang di perusahaan untuk kepentingan pribadi sebesar Rp500.000.” Transaksi ini mengakibatkan akun Prive Pemilik bertambah sebesar Rp500.000 dan akun Kas berkurang sebesar Rp500.000.

Apakah prive hanya kas saja? Sesuai dengan definisi di atas, prive adalah pengambilan sesuatu dari perusahaan. Hal ini berarti pemilik juga dapat “mengambil” atau memanfaatkan aset non kas, mengambil barang dagangan atau bahkan menggunakan jasa perusahaan untuk kepentingan pribadi. Hal ini sangat jarang dibahas dalam buku teks akuntansi, namun ketika Anda melihat transaksi yang terjadi secara nyata di perusahaan, khususnya usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), transaksi prive non kas dapat terjadi.

Prive yang terjadi di UMKM dapat melibatkan aset non kas bahkan pendapatan. Sebagai contoh “Pada tanggal 20 Januari 2020, pemilik perusahaan mengambil perlengkapan perusahaan senilai Rp200.000 untuk kepentingan pribadi” atau “Pada tanggal 12 Februari 2020, pemilik perusahaan menggunakan jasa rias pengantin senilai Rp2.000.000 untuk kepentingan pribadi”. Dua contoh transaksi tersebut, sama-sama mengakibatkan penambahan akun Prive Pemilik, namun di sisi lain terdapat perbedaan yaitu pada contoh pertama, akun lain yang berubah yaitu Perlengkapan (berkurang), sedangkan contoh kedua, akun akun lain yang berubah yaitu Pendapatan Jasa (bertambah). Dua transaksi ini merupakan contoh transaksi prive yang tidak melibatkan akun Kas.

Apakah transaksi dan pencatatan ini menurut akuntansi diperbolehkan? Kita lihat kembali pada persamaan akuntansi dan konsep dasar debit dan kredit. Perhatikan kembali persamaan akuntansi, yaitu: A + B + PE = U + E + P. Dua transaksi tersebut tidak mengubah keseimbangan persamaan akuntansi dan tetap mengacu pada pencatatan berpasangan.

Contoh pertama, Prive Pemilik (PE) bertambah dan Perlengkapan (A) berkurang. Semua perubahan terjadi di sisi kiri, satu bertambah dan satu berkurang sehingga antara sisi kiri dan sisi kanan persamaan tetap seimbang. Prive Pemilik bertambah diletakkan di debit, dan Perlengkapan berkurang diletakkan di kredit. Hal ini juga sesuai dengan konsep dasar pencatatan berpasangan.

Contoh kedua, Prive Pemilik (PE) bertambah dan Pendapatan (P) bertambah. Perubahan pertama terjadi di sisi kiri persamaan dan perubahan kedua terjadi di sisi kanan persamaan dengan besarnya perubahan sebesar Rp2.000.000. Transaksi ini tidak mengubah keseimbangan dalam persamaan akuntansi. Prive Pemilik bertambah diletakkan di debit, dan Pendapatan bertambah diletakkan di kredit. Hal ini juga sesuai dengan konsep dasar pencatatan berpasangan.

Berdasarkan penjelasan dan contoh transaksi tersebut dapat diketahui bahwa Prive tidak harus kas. Selama ini contoh yang diberikan masih sangat terbatas. Semoga dengan penjelasan ini dapat dapat memahami prive lebih dalam. Untuk penjelasan lanjutan Anda dapat menyaksikan videonya di link berikut https://bit.ly/30tC1Q9

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *